Orang Kaya Baru di Desa Jawa: Transformasi Sosial Pasca-Reformasi 1998

Transformasi desa Jawa pasca-reformasi 1998 membawa dinamika baru dalam struktur sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan. Salah satu fenomena menarik adalah munculnya “orang kaya baru”—warga desa yang kini memiliki aset modern seperti mobil, rumah megah, dan perangkat teknologi canggih. Dalam kuliah ini, Agung Wijaksono membedah fenomena tersebut melalui artikelnya yang terbit pada tahun 2020 di Southeast Asian Studies.

Kelas Menengah Tumbuh Pesat di Pedesaan

Studi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan kelas menengah di desa terjadi lebih cepat secara relatif dibandingkan di kota. Perubahan gaya hidup menjadi sangat mencolok: rumah bergaya Skandinavia atau Mediterania, kepemilikan kendaraan pribadi, serta akses terhadap AC dan komputer menjadi pemandangan umum—sesuatu yang dulu sangat jarang ditemui. Temuan ini diperkuat oleh data dari Asian Development Bank.

Neoliberalisme dan Perubahan Kelembagaan Desa

Agung berargumen bahwa perubahan ini bukan hanya karena pertumbuhan ekonomi, tetapi juga akibat transisi kelembagaan. Sistem patrimonial era Orde Baru—yang mengandalkan loyalitas kepada negara—telah bergeser ke tata kelola neoliberal. Dalam sistem baru ini, pasar memainkan peran dominan dan membuka peluang lebih inklusif bagi masyarakat desa untuk meraih mobilitas sosial.

Pergeseran Pandangan terhadap Kekayaan

Pada masa lalu, kekayaan di desa kerap dianggap mencurigakan. Orang kaya dicap individualis dan tidak tunduk pada norma kolektif desa. Namun kini, kekayaan justru dipandang sebagai simbol keberhasilan, bahkan menjadi cita-cita yang diidamkan oleh banyak warga desa. Ini menandai pergeseran nilai dalam masyarakat yang semakin kompetitif dan terbuka.

Ketimpangan Sosial yang Meningkat

Meski kemakmuran meningkat, studi ini juga mencatat bahwa ketimpangan sosial justru makin tajam. Tidak semua warga desa memiliki akses yang sama terhadap peluang ekonomi baru. Akibatnya, jurang sosial terbentuk, hanya sebagian yang mampu beradaptasi dan memetik hasil dari sistem ekonomi pasca-reformasi.

Refleksi: Kemajuan dan Tantangan di Era Pasar Terbuka

Fenomena orang kaya baru di desa Jawa mencerminkan keberhasilan sistem ekonomi yang lebih terbuka, namun juga mengingatkan akan dampak sosial yang perlu diperhatikan. Perubahan yang terjadi tidak hanya di tingkat ekonomi, tapi juga mencakup pola pikir, nilai, dan struktur sosial masyarakat desa.

Studi Agung Wijaksono ini memberikan wawasan penting bagi peneliti dan pembuat kebijakan untuk memahami kompleksitas pembangunan pedesaan Indonesia di era pasca-reformasi.

Pelajari mengenai kehidupan desa dengan kelas di UGM Online Antropologi Pedesaan

Instruktur :

Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A. adalah dosen dan peneliti di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Ia memiliki kepakaran dalam bidang antropologi, studi kawasan (area studies), ekonomi politik, penghidupan perdesaan, dan perubahan agraria. Karya-karyanya mencerminkan minat yang mendalam terhadap dinamika sosial di pedesaan Jawa pasca Reformasi, khususnya terkait dengan ekspansi kelas menengah dan transformasi sistem penghidupan masyarakat desa.

Salah satu publikasi pentingnya, Post-1998 Changes in Rural Java: The Rapid Expansion of the Middle Class (2020), mengkaji perubahan struktur sosial di pedesaan Jawa pasca runtuhnya rezim Orde Baru. Ia juga menyoroti aspek teknis dan kontestasi ruang dalam risetnya tentang participatory mapping di komunitas Karen di dataran tinggi Thailand, yang dipublikasikan di BHUMI: Jurnal Agraria dan Pertanahan (2022). Kolaborasi internasionalnya terlihat dalam keterlibatannya dalam penelitian lintas disiplin menggunakan citra satelit, yang dipublikasikan dalam Scientific Reports(2023) dan telah banyak dikutip oleh akademisi lain.