Berbagai Fakta Ilmiah tentang Perubahan Iklim

Definisi dan Teori Perubahan Iklim

Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan jangka panjang dalam pola cuaca dan suhu rata-rata di Bumi. Perubahan ini dapat terjadi secara alami, misalnya akibat variasi output Matahari atau letusan vulkanik besar, namun dalam konteks modern istilah ini lebih sering merujuk pada pemanasan global yang dipicu oleh aktivitas manusia. Iklim berbeda dengan cuaca; cuaca adalah kondisi atmosfer jangka pendek (harian atau mingguan), sedangkan iklim merupakan rata-rata kondisi cuaca dalam periode panjang (biasanya 30 tahun) di suatu wilayah. Sejak revolusi industri, pembakaran bahan bakar fosil (batubara, minyak, gas) dan penggundulan hutan telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer secara drastis, memicu perubahan iklim antropogenik.

Secara teori, mekanisme utama di balik pemanasan global adalah efek rumah kaca. Atmosfer Bumi mengandung gas-gas seperti uap air, karbon dioksida (CO₂), metana, dinitrogen oksida, dan lain-lain yang bersifat menyerap radiasi inframerah yang dipancarkan permukaan Bumi. Gas-gas ini berfungsi layaknya selimut yang menyelimuti planet, menahan panas di dekat permukaan sehingga suhu Bumi lebih hangat 33°C dibandingkan jika tidak ada atmosfer. Efek rumah kaca alami inilah yang membuat Bumi layak huni; tanpa itu suhu rata-rata permukaan diperkirakan hanya sekitar -18°C. Namun, sejak abad ke-19 konsentrasi CO₂ meningkat pesat dari 280 ppm (pra-industri) menjadi lebih dari 410 ppm saat ini, tertinggi dalam 2 juta tahun terakhir. Kenaikan ini utamanya disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia, yang memperkuat efek rumah kaca dan memanaskan planet kita.

Bukti ilmiah kini mengonfirmasi tanpa keraguan bahwa perubahan iklim yang terjadi sejak abad ke-20 didorong oleh ulah manusia. IPCC menyatakan “tidak terbantahkan” bahwa pengaruh manusia telah memanaskan atmosfer, lautan, dan daratan. Selama periode 1850–1900 hingga 2010–2019, suhu global telah naik sekitar 1.07°C akibat ulah manusia. Faktor alam seperti variabilitas Matahari dan letusan gunung berapi hanya memberikan pengaruh kecil terhadap tren tersebut. Dengan kata lain, tanpa emisi gas rumah kaca buatan manusia, kenaikan suhu global yang kini kita saksikan tidak akan terjadi.

Secara historis, iklim Bumi memang pernah berubah akibat faktor alam, namun laju perubahan saat ini sangat luar biasa. Selama 10 ribu tahun terakhir sebelum era industri, konsentrasi CO₂ relatif stabil di bawah 300 ppm. Kini level CO₂ melonjak 50% di atas ambang itu dalam waktu 200 tahun. Pemanasan yang terjadi pun jauh lebih cepat dibanding periode sebelumnya. Fakta-fakta ini mendukung teori bahwa akumulasi gas rumah kaca dari aktivitas manusia telah mengganggu keseimbangan energi Bumi.

Tren dan Data Observasi Global

Pengamatan empiris dari berbagai lini menunjukkan sinyal nyata perubahan iklim sedang berlangsung di seluruh dunia. Suhu permukaan global telah meningkat signifikan. Rata-rata suhu global periode 2011–2020 tercatat sekitar +1,09°C lebih tinggi dibanding periode pra-industri 1850–1900. Badan PBB WMO dan NOAA melaporkan 2023 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, sekitar 1,35°C di atas rata-rata pra-industri. Wilayah Arktik memanas lebih cepat dari rata-rata global akibat umpan balik es-albedo.

Perubahan terukur juga tampak pada konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Kadar karbon dioksida melonjak dari 280 ppm pada tahun 1750-an menjadi lebih dari 420 ppm saat ini. Es kutub dan gletser menunjukkan tren penyusutan hampir di seluruh dunia. Luas es laut Arktik mengalami penurunan drastis. Permukaan laut global kini naik dengan kecepatan dan ketinggian yang belum pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia.

Selain es laut, gletser pegunungan dan lapisan es di Greenland dan Antarktika juga kehilangan massa dengan cepat. Permukaan laut global kini naik dengan kecepatan 3,7 mm/tahun. Selain itu, pengasaman lautan, perubahan pola presipitasi, dan intensifikasi siklus hidrologi global menunjukkan bahwa sistem iklim Bumi sedang berubah.

Proyeksi Iklim Global berdasarkan IPCC dan Skenario Emisi

Masa depan iklim Bumi sangat bergantung pada jumlah gas rumah kaca yang akan kita emiskan di atmosfer. IPCC dalam Laporan Penilaian Keenam (AR6) menyajikan lima skenario SSP yang mewakili berbagai jalur emisi. Hanya skenario emisi sangat rendah yang menjaga pemanasan di sekitar 1,5°C. Pemanasan di atas 3°C atau 4°C akan membawa dampak besar seperti gelombang panas yang dahsyat, mencairnya lapisan es, dan kenaikan muka laut yang ekstrem.

Pada pertengahan abad ini, dunia diproyeksikan akan melampaui ambang +1,5°C. Pilihan emisi setelah itu sangat menentukan apakah suhu stabil atau terus melonjak. Proyeksi kenaikan muka laut bervariasi dari 0,4–0,6 meter hingga 0,8–1 meter pada tahun 2100.

Dampak Perubahan Iklim: Global dan Regional

Perubahan iklim mengancam berbagai sektor dan wilayah. Beberapa dampak utama meliputi kenaikan muka laut, ekstrem suhu, perubahan pola hujan dan kekeringan, dampak terhadap ekosistem, ketahanan pangan dan air, serta kesehatan manusia. Dampak tidak terjadi secara merata; terdapat kerentanan regional yang berbeda. Negara-negara berkembang dan komunitas pesisir paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Perubahan iklim juga berpotensi memicu migrasi dan konflik. Kejadian kekeringan parah dan gagal panen bisa mendorong migrasi penduduk. Risiko ini meningkat seiring besarnya perubahan iklim.

Studi Kasus di Indonesia

Indonesia menghadapi tantangan unik akibat perubahan iklim. Data menunjukkan suhu udara di Indonesia telah meningkat sekitar 1°C dalam 40 tahun terakhir. Pola musim hujan dan kemarau cenderung bergeser. Sektor pertanian sangat terdampak oleh perubahan iklim. Banjir rob semakin sering melanda kota-kota pesisir seperti Jakarta Utara. Perubahan iklim juga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Pemerintah dan komunitas di Indonesia mulai melakukan langkah adaptasi, seperti peningkatan layanan peringatan dini iklim, pengembangan varietas padi tahan kekeringan, dan pembangunan sabuk hijau mangrove. Namun, adaptasi memiliki batas sehingga mitigasi global tetap krusial.

Perubahan iklim merupakan fakta ilmiah yang tak terelakkan. Planet kita telah memanas 1,1°C sejak abad ke-19, dan lintasan saat ini menuju pemanasan lebih lanjut yang berbahaya. Mitigasi dan adaptasi menjadi dua strategi utama. Mitigasi mencakup pengurangan emisi GRK dan transisi ke energi bersih. Adaptasi meliputi penyesuaian sistem untuk mengurangi kerentanan.

Upaya global dan lokal harus dilakukan secara terpadu. Literasi iklim di kalangan masyarakat perlu ditingkatkan. Riset dan inovasi juga harus terus didorong. Setiap pembaca, terutama generasi muda, diharapkan tidak hanya memahami sainsnya tetapi juga terdorong untuk ambil bagian dalam aksi iklim.

Pelajari mengenai perubahan iklim dan bagaimana upaya menanganinya melalui kelas di UGM Online Climate Change (1): Konsep Dasar Perubahan Iklim

Instruktur :

Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU, ASEAN Eng. adalah dosen dan peneliti senior di Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, dengan kepakaran di bidang ilmu kehutanan, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), serta konservasi sumber daya hutan. Selama lebih dari dua dekade, beliau aktif mengembangkan berbagai kajian dan proyek ilmiah yang berfokus pada mitigasi bencana hidrometeorologis, manajemen sumber daya air, serta dampak perubahan tutupan lahan terhadap risiko lingkungan. Keilmuan beliau sangat relevan dalam menjawab tantangan perubahan iklim, terutama yang berkaitan dengan kelestarian ekosistem dan pengelolaan lanskap berkelanjutan.

Dr. Hatma aktif mengembangkan berbagai riset terapan terkait respons hidrologi dan konservasi DAS, sekaligus memimpin berbagai kajian tentang strategi pengurangan risiko bencana banjir, longsor, dan kekeringan yang terkait erat dengan perubahan iklim. Ia juga secara intensif terlibat dalam implementasi praktik Climate Smart Village (CSV) bersama kelompok masyarakat rentan, mendukung ketahanan pangan serta memperkuat kapasitas adaptasi masyarakat menghadapi tantangan perubahan iklim. Komitmen terhadap pengabdian masyarakat, transfer pengetahuan dan penerapan teknologi tepat guna menjadi kegiatan rutin yang sering dilakukan bersama tim kerjanya di tingkat lokal maupun nasional.

Referensi

Antara. (2023, November 15). BMKG sebut suhu udara permukaan di Indonesia naik 1,3 derajat celcius. Antara News. Retrieved from sumbar.antaranews.com

Anthesis Group. (2021, August 9). Five Future Scenarios AR6 IPCC. Anthesis Insights. Retrieved from anthesisgroup.com

DetikInet – Kamaliah, A. (2024, December 20). Banjir Rob Jakut Seperut Bukti Penurunan Tanah-Perubahan Iklim Parah. Detik News. Retrieved from detik.com

DIGITANI IPB. (2025, February 7). 4 Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian. IPB University – Digitani. Retrieved from digitani.ipb.ac.id

InfoPublik. (2021). Dampak Perubahan Iklim Global Terhadap Pertanian dan Ketahanan Pangan. InfoPublik.id. Retrieved from infopublik.id

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2021). Climate Change 2021: The Physical Science Basis.Cambridge University Press.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2022). Climate Change 2022: Impacts, Adaptation, and Vulnerability. Cambridge University Press.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Summary for Policymakers. IPCC.

Lindsey, R., & Dahlman, L. (2024, January 18). Climate Change: Global Temperature. NOAA Climate.gov. Retrieved from climate.gov

NASA. (2023). Global Surface Temperature Anomalies (1880–2023 data). NASA GISS. Retrieved from data.giss.nasa.gov

Ritchie, H., & Roser, M. (2020). CO₂ and Greenhouse Gas Emissions. Our World in Data. Retrieved from ourworldindata.org

World Meteorological Organization (WMO). (2023). State of the Global Climate 2022 (WMO-No. 1290). World Meteorological Organization.