Disabilitas intelektual merupakan kondisi pada anak di bawah usia 18 tahun yang ditandai dengan fungsi intelektual di bawah rata-rata (IQ < 70) serta keterbatasan signifikan dalam keterampilan adaptif, seperti kemampuan makan, berpakaian, berkomunikasi, dan bersosialisasi sesuai usia. Anak dengan disabilitas intelektual, termasuk anak lambat belajar dan Down syndrome, menghadapi tantangan jangka panjang dalam fungsi pikir, interaksi sosial, serta partisipasi penuh di lingkungan sebayanya. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, disabilitas intelektual memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan jenis disabilitas lain pada anak, dengan angka nasional sekitar 1% dan prevalensi tertinggi di Pulau Jawa dan DKI Jakarta mencapai 1,9% pada anak usia 5–17 tahun. Data ini menjadi dasar penting dalam perencanaan intervensi pendidikan dan layanan inklusif, di mana permainan berbasis kearifan budaya lokal berperan sebagai sarana stimulasi, pembelajaran, dan peningkatan kualitas hidup anak dengan disabilitas intelektual melalui nilai-nilai sederhana yang mendukung tumbuh kembang dan penerimaan sosial.
Pengantar: Definisi Disabilitas Intelektual dan Prevalensi
0/3
Permasalahan dan Kebutuhan Anak dengan Disabilitas
0/3
Konsep Permainan Kearifan Budaya Lokal
0/3
Manfaat Permainan untuk Anak dengan Disabilitas
0/3
Contoh Permainan Kearifan Budaya Lokal
0/3
Implementasi dan Hasil pada Anak Disabilitas
0/3
About Lesson
