Visi dan Tujuan dalam Future Leadership: Menyusun Arah yang Relevan, Inspiratif, dan Dapat Diwujudkan

Artikel ini membahas peran penting visi dan tujuan sebagai fondasi kepemimpinan masa depan dalam menghadapi dunia yang dinamis dan tidak menentu. Visi dipahami sebagai gambaran masa depan yang ingin diwujudkan, sedangkan tujuan menjadi langkah strategis yang menerjemahkan visi ke dalam tindakan nyata, dengan karakteristik utama yang ringkas, jelas, berorientasi masa depan, dan mampu menginspirasi. Penyusunan visi dan tujuan dilakukan melalui tahapan terarah, mulai dari memahami kondisi dan nilai inti organisasi, membayangkan masa depan yang aspiratif namun realistis, melibatkan berbagai perspektif, hingga menurunkannya menjadi tujuan yang konkret dan terukur. Melalui contoh kasus, artikel ini menunjukkan bahwa visi dan tujuan yang kontekstual, partisipatif, dan aplikatif dapat menjadi panduan yang kuat untuk menggerakkan individu maupun organisasi menuju dampak jangka panjang yang bermakna.

Oleh : Dr.nat.techn. Francis M Constance Sigit Setyabudi, S.T.P., M.P.

Salah satu kapasitas utama dalam future leadership adalah kemampuan menyusun arah masa depan. Kemampuan ini mencakup visionary thinking (kemampuan membayangkan masa depan yang diinginkan), future-oriented mindset (kesadaran akan dampak jangka panjang dari keputusan hari ini), dan foresight(kemampuan membaca arah perubahan). Setelah memahami kerangka berpikir tersebut, bagian berikut akan membahas lebih spesifik tentang visi dan tujuan yang tidak hanya ideal dan relevan, tetapi juga dapat dijalankan dalam konteks nyata.

Dalam konteks kepemimpinan masa depan, visi dan tujuan menjadi penunjuk arah di tengah dunia yang terus berubah. Visi menggambarkan masa depan yang ingin diwujudkan, sementara tujuan adalah langkah-langkah strategis yang membantu mewujudkan visi tersebut dalam bentuk tindakan nyata. Visi seringkali lahir dari nilai yang diyakini, kepedulian terhadap isu tertentu, pengalaman pribadi, atau refleksi terhadap kondisi sosial dan lingkungan sekitar. Karena itu, setiap visi bersifat unik dan mencerminkan harapan seseorang atau sekelompok orang terhadap masa depan yang lebih baik. 

Pemimpin masa depan perlu memiliki visi dan tujuan yang relevan dengan tantangan zaman. Agar tetap relevan, pemimpin perlu menyusun visi dan tujuan yang menjawab kebutuhan nyata yang dihadapi organisasi atau masyarakat, terbuka terhadap perubahan, dan berorientasi jangka panjang. Selain itu, menurut Kantabutra & Avery (2010), terdapat karakteristik utama yang dianggap penting dalam visi, di antaranya: Conciseness, Clarity, Future Orientation, dan Ability to Inspire. 

  • Conciseness dalam hal ini berarti ringkas, yakni visi sebaiknya tidak berbelit, cukup satu atau dua kalimat. 
  • Clarity artinya mudah dipahami, tidak ambigu, dan langsung menyampaikan arah masa depan. 
  • Future orientation berarti visi harus menggambarkan keadaan di masa depan, bukan hanya keadaan sekarang.
  • Ability to inspire, yakni menginspirasi, mampu menumbuhkan komitmen, dan rasa kepemilikan.

Dalam praktiknya, tidak semua karakteristik ini harus selalu ada. Visi yang baik adalah visi yang kontekstual atau dengan kata lain sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan situasi tempat ia diterapkan.

Tahapan Menyusun Visi dan Tujuan

Berikut ini beberapa langkah yang dapat membantu pemimpin dalam merumuskan visi dan tujuan yang relevan:

Memahami kondisi saat ini dan memetakan konteks

Langkah awal dalam merumuskan visi adalah memahami kondisi saat ini secara menyeluruh. Seorang pemimpin perlu mengidentifikasi tren, tantangan, dan peluang yang ada. Menurut Jones et al. (2009), proses ini dapat dilakukan melalui pengumpulan informasi dari berbagai sumber seperti diskusi, focus group, observasi, maupun pengalaman personal. Tujuannya, agar visi nantinya relevan dan memberi dampak nyata bagi sekitar.

    Selain itu, seorang pemimpin perlu memastikan core ideology atau nilai inti yang akan menjadi pijakan utama dalam perjalanan organisasi. Menurut Collin & Porras (1996), visi juga harus berlandaskan pada core ideology yang terdiri dari:

    • Nilai Inti (Core Values): Prinsip yang tidak bisa ditawar, bahkan jika tidak menguntungkan secara bisnis; dan 
    • Tujuan Inti (Core Purpose): Alasan mendasar mengapa organisasi ada dan mengapa keberadaannya penting.

    Nilai ini bersifat tetap, tidak berubah, dan terus menjadi dasar organisasi dalam jangka panjang. Dengan memahami kondisi dan nilai organisasi, visi yang dibentuk dapat relevan, memberi dampak, sekaligus tetap sesuai dengan karakter dan jati diri organisasi. 

    Membayangkan masa depan

    Selain berlandaskan pada core ideology, visi juga berlandaskan pada gambaran masa depan yang diinginkan atau Envisioning Future (Collin & Porras, 1996). Untuk menentukan visi, pemimpin perlu membayangkan masa depan ideal yang diinginkan. Namun, gambaran masa depan ini bukan hanya “imajinasi liar” semata. Gambaran ini perlu mempertimbangkan tren yang sedang dan akan terjadi, tantangan yang mungkin muncul, peluang yang bisa dimanfaatkan, serta kapasitas organisasi, sesuai dengan tahap awal yang telah dilakukan. Hal ini penting agar visi tetap aspiratif dan realistis.

      Melibatkan perspektif lain

      Saat membayangkan masa depan, kita tidak hanya melihat dari sudut pandang diri sendiri atau organisasi, tapi juga mempertimbangkan aspirasi pihak lain. Ketika visi dibentuk secara partisipatif, arah yang dihasilkan cenderung lebih kuat, relevan, dan mendapatkan dukungan luas dari mereka yang akan terlibat dalam implementasinya. Melalui keterlibatan ini, visi yang tadinya terasa abstrak bisa dirasakan sebagai milik bersama sehingga setiap orang memiliki keinginan bergerak menuju tujuan yang sama.

        Menurunkan visi menjadi tujuan

        Dari visi yang telah dirumuskan, langkah selanjutnya adalah menurunkannya menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik. Tujuan ini menjadi langkah-langkah spesifik yang perlu dilakukan untuk mencapai visi. Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan melihat kesenjangan antara masa depan yang diinginkan dan kondisi saat ini. Pettit et al (2023) menyebutnya dengan proses imagining, yakni membandingkan antara masa depan ideal yang dibayangkan dengan kondisi aktual saat ini. Dengan mengetahui kesenjangan, kita menyadari kekurangan kondisi saat ini dan apa yang dibutuhkan agar cita-cita di masa depan bisa tercapai. Hal ini kemudian dapat diturunkan menjadi tujuan sebagai langkah konkret untuk mencapai visi. 

          Agar pemahaman mengenai visi dan tujuan ini lebih mendalam, berikut adalah contoh kasus dari penyusunan visi dan tujuan. 

          Contoh Kasus:

          Sebuah kelompok pemuda di sebuah kecamatan ingin mengembangkan kegiatan mereka agar lebih berdampak bagi wilayahnya. Selama ini mereka aktif membuat kegiatan sosial, namun kegiatan tersebut belum memiliki arah jangka panjang dan tujuan yang jelas. Mereka merasa perlu menyusun visi agar setiap kegiatan lebih terarah dan bisa memberi manfaat nyata di lingkungan mereka.

          Contoh Tahap Penyusunan Visi dan Tujuan:

          Memahami Kondisi

          Dalam refleksi bersama, mereka menyadari bahwa sejak awal mereka percaya pada dua nilai inti: kesempatan yang setara dan pemberdayaan generasi muda. Nilai-nilai ini menjadi dasar dari tujuan utama mereka, yaitu menciptakan ruang yang memungkinkan anak muda untuk berkembang, berkontribusi, dan membangun peluang di lingkungan mereka sendiri.

            Banyak remaja yang lulus sekolah tetapi tidak memiliki keterampilan atau peluang untuk mandiri secara ekonomi. Akibatnya, sebagian dari mereka menganggur atau merantau tanpa bekal keterampilan yang memadai. Di sisi lain, potensi lokal di wilayah tersebut cukup besar, seperti lahan yang bisa dikembangkan, usaha kecil yang sudah berjalan, dan komunitas kreatif yang masih aktif, yang semuanya bisa dimanfaatkan untuk mendukung pemberdayaan remaja. 

            Membayangkan masa depan

            Dari tantangan dan peluang yang ada, kelompok pemuda menyadari bahwa mereka bisa menjadi jembatan antara potensi lokal dengan generasi muda. kampung mereka menjadi tempat di mana remaja aktif, memiliki keterampilan, mandiri, dan terlibat langsung dalam membangun komunitas. Mereka membayangkan remaja tidak lagi bingung setelah lulus sekolah, karena tersedia peluang ekonomi, ruang belajar, berkarya, dan berjejaring di lingkungan sendiri. Kelompok ini juga berharap remaja yang produktif dapat mendorong kemajuan desa.

              Melibatkan Perspektif Lain (Widening Participation)

              Untuk memperkuat visi, mereka lalu berdiskusi dengan karang taruna lain, guru BK sekolah, pelaku usaha kecil, dan tokoh masyarakat. Hasilnya memperkuat gagasan bahwa remaja butuh kegiatan yang bisa melatih keterampilan dan membangun kepercayaan diri.

                Menyusun Visi dan Menurunkannya ke Tujuan 

                Dari proses tersebut, mereka menyusun visi:

                  “Menjadi ruang tumbuh pemuda yang aktif, mandiri, dan berkontribusi bagi desa melalui aksi nyata dan kolaborasi lokal.”

                  Kemudian dari visi tersebut dirumuskan tujuan yang spesifik:

                  1. Tujuan 1: Menyelenggarakan program pelatihan kewirausahaan, misalnya produksi keripik atau sabun herbal bagi minimal 50 pemuda dalam 1 tahun.
                  2. Tujuan 2: Membentuk 5 kelompok belajar keterampilan digital (editing, desain, promosi produk) di 3 dusun dalam 6 bulan.
                  3. Tujuan 3: Mengadakan forum bulanan dengan pelaku usaha lokal dan alumni sukses untuk berbagi pengalaman dan peluang kerja atau usaha.

                  Dalam pembahasan ini kita telah melihat bahwa visi dan tujuan merupakan fondasi penting bagi arah organisasi. Visi yang baik memiliki karakteristik yang jelas, menginspirasi, dan mampu memberi arah jangka panjang. Penyusunannya dilakukan melalui langkah-langkah terarah: berakar pada nilai inti, berorientasi pada masa depan, memahami kondisi sekitar, melibatkan perspektif lain, serta diterjemahkan ke dalam tujuan yang konkret. Dengan pemahaman ini, visi dan tujuan dapat menjadi pedoman yang relevan, realistis, dan menggerakkan organisasi menuju dampak yang diharapkan.

                  Tentang Penulis

                  Dr.nat.techn. Francis M. Constance Sigit Setyabudi, S.T.P., M.P. adalah dosen dan peneliti di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada dengan bidang keahlian teknologi pertanian, keamanan pangan, mikotoksin, serta teknologi produk pangan dan hasil pertanian. Ia aktif dalam kegiatan pendidikan, penelitian, pembimbingan, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan inovasi dan kekayaan intelektual. Rekam jejak penelitiannya tercermin dalam berbagai publikasi ilmiah nasional dan internasional yang membahas autentikasi pangan, fermentasi, karakteristik fisikokimia bahan pangan, serta mitigasi kontaminasi mikotoksin pada produk pertanian seperti kakao, jagung, madu, dan pisang. Selain publikasi jurnal dan prosiding, ia juga terlibat dalam penulisan buku ilmiah dan berbagai proyek riset kolaboratif, yang menunjukkan komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pangan yang aplikatif dan berkelanjutan.

                  IKUTI KELASNYA di UGM Online

                  Basic Future Leadership

                  Basic Future Leadership menghadirkan pendekatan komprehensif untuk mengembangkan kepemimpinan adaptif dan visioner melalui pemahaman konsep, praktik kolaboratif, pemanfaatan transformasi digital, serta strategi perubahan dan keberlanjutan agar pemimpin mampu membangun organisasi yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing di tengah tantangan global.

                  Referensi

                  Collins, J & Porras, J. I. (1996). Building Your Company’s Vision. Harvard Business Review. https://hbr.org/1996/09/building-your-companys-vision 

                  Jones, L., Meade, B., Norris, K., Lucas-Wright, A., Jones, F., Moini, M., Jones, A., & Koegel, P. (2009). Develop a vision.Ethnicity & Disease, 19(4 Suppl 6), S6–30.

                  Kantabutra, S & Avery, G. C. (2010). The power of vision: statements that resonate. Journal of Business Strategy, 31(1), 37 – 45 

                  Pettit, K. L., Balogun, J., & Bennet, M. (2023). Transforming Visions into Actions: Strategic change as a future-making process. Organization Studies, 44(11), 1175 – 1199