Business Model Canvas merupakan kerangka kerja strategis yang digunakan untuk menggambarkan dan mengembangkan model bisnis secara sederhana, visual, dan mudah dipahami. Diperkenalkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur, Business Model Canvas membantu pelaku usaha dan organisasi memetakan bagaimana sebuah bisnis menciptakan, menyampaikan, dan menangkap nilai melalui sembilan elemen utama yang mencakup aspek konsumen, penawaran, infrastruktur, dan keuangan. Dengan pendekatan visual yang ringkas, Business Model Canvas memudahkan diskusi, perencanaan, serta eksplorasi inovasi bisnis, baik dalam konteks UMKM, startup, maupun organisasi yang lebih besar. Kerangka ini tidak hanya membantu memahami kondisi bisnis saat ini, tetapi juga menjadi alat penting dalam merancang strategi pengembangan bisnis yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Oleh : Fani Pramuditya, S.E., M.B.A.
Menurut Osterwalder dan Pigneur 2010, kita membutuhkan konsep model bisnis yang mudah dimengerti atau dipahami dalam suatu diskusi, pertemuan, maupun workshop. Model bisnis membantu perusahaan dalam menyusun alternatif baru. Tanpa model bisnis yang jelas, maka perusahaan akan sulit untuk menciptakan inovasi yang sukses. Osterwalder dan Pigneur menyebutkan bahwa model bisnis mendeskripsikan 9 blok dasar yang menunjukkan bagaimana suatu usaha menghasilkan pendapatan. Blok dasar tersebut mencaku 4 area inti dari sebuah bisnis, yaitu konsumen, penawaran, infrastruktur, dan keuangan. Deskripsi mengenai 9 blok dasar tersebut kemudian dikenal sebagai Business Model Canvas.
Widyawati 2024 menjelaskan bahwa Business Model Canvas merupakan strategi manajemen yang disusun untuk menjabarkan sebuah konsep bisnis ke dalam bentuk visual. Sebagai kerangka manajemen, Business Model Canvasmenunjukkan gambaran ide bisnis beserta realisasinya dengan lebih mudah. Business Model Canvas diperkenalkan pertama kali oleh Alexander Osterwalder dalam buku miliknya yang berjudul “Business Model Generation”. Seorang entrepreneur asal Swiss tersebut menggambarkan elemen atau blok dasar penting dalam suatu model bisnis melalui kerangka kerja sederhana.
- Elemen Business Model Canvas
Berikut merupakan 9 blok dasar atau elemen penting penyusun Business Model Canvas yang dijabarkan dalam buku “Business Model Generation” oleh Alexander Osterwalder.
- Customer Segments
Osterwalder dan Pigneur (2010) menggambarkan customer segments pada blok paling kanan dalam Business Model Canvas. Customer segments menggambarkan sekelompok individu yang akan dijangkau dan dilayani oleh perusahaan.
Widyawati (2024) menjelaskan bahwa customer segments atau segmentasi konsumen merupakan sebuah praktik pengelompokan individu yang serupa ke dalam beberapa kategori tertentu. Kategori tersebut disusun berdasarkan kebutuhan, perilaku, pekerjaan, usia, jenis kelamin, maupun kategori lainnya. Pembatasan cakupan suatu kelompok individu yang akan menjadi customer segment penting untuk ditetapkan agar perusahaan dapat dengan lebih mudah memahami konsumen sehingga tercipta customer personas atau persona konsumen.
Persona konsumen memiliki tiga komponen penting yang harus diketahui oleh perusahaan sebelum mengidentifikasikan segmentasi konsumen, yaitu sebagai berikut.
- Customer jobs, meliputi tugas tertentu yang ingin diselesaikan, permasalahan yang ingin dipecahkan, atau kebutuhan yang ingin dipenuhi.
- Customer gain, merupakan manfaat yang ingin dirasakan konsumen, baik dari segi fungsi, emosional, maupun sosial.
- Customer pain, meliputi kekhawatiran risiko yang mungkin diterima atau adanya ketidaksesuaian harapan dengan produk yang diterima.
Segmen konsumen dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Berikut merupakan penjelasan beberapa segmen tersebut.
Business to Business (B2B) : B2B merupakan segmentasi yang menempatkan bisnis lain sebagai konsumen atau target pasar perusahaan. Pada umumnya segmentasi jenis ini diterapkan oleh perusahaan yang menawarkan barang setengah jadi atau barang yang membutuhkan barang lain sebagai komplementer. Sebagai contoh pengusaha kemasan makanan menawarkan produknya kepada pengusaha makanan.
Business to Customer (B2C) : B2C merupakan segmentasi yang menetapkan konsumen akhir atau end user sebagai target pasarnya sehingga perusahaan akan memiliki hubungan langsung dengan konsumen. Contohnya adalah toko kelontong yang memasarkan produknya langsung kepada konsumen terakhir.
Mass Market : Mass market atau pasar luas merupakan segmentasi yang target pasarnya mencakup suatu kelompok besar yang memiliki kebutuhan atau masalah yang relatif sama. Segmentasi ini melayani semua segmen konsumen. Segmentasi ini biasanya banyak ditemukan pada peruahaan sektor elektronik.
Niche Market : Niche market atau ceruk pasar merupakan segmentasi yang target pasarnya spesifik atau terspesialisasi. Segmentasi ini sering terlihat dalam hubungan pembeli dengan supplier, misalnya perusahaan manufaktur sparepart kendaraan.
Multi-sided Platform : Multi-sided platform merupakan jenis segmentasi yang melayani dua atau lebih segmen konsumen yang saling bergantung. Multi-sided platform menciptakan nilai produk dengan memfasilitasi interaksi antarkelompok yang berbeda. Contohnya adalah marketplace yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli.
Kelebihan dan Kelemahan Business Model Canvas
Menurut Widyawati (2024) Business Model Canvas memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut.
Kelebihan
- Dapat memberikan gambaran model bisnis tertentu secara singkat.
- Lebih mudah dirujuk dan dipahami karena memiliki visual yang sederhana.
- Lebih mudah dibenahi apabila terdapat bagian yang perlu diperbaiki.
- Dapat diterapkan untuk bisnis berskala kecil maupun besar.
Kelemahan
- Tidak cocok diterapkan untuk bisnis yang masih pada tahap pengembangan awal.
- Asumsi berisiko dimungkinkan dapat muncul dan belum ada cara untuk melakukan verifikasi dengan jelas.
- Fokus pada bentuk akhir, tidak disertai penentuan strategi untuk mencapai target.
Penerapan Business Model Canvas : Berdasarkan studi kasus Hariani dan Sutrisno (2020) tentang Kampung Laweyan yang berada di Surakarta merupakan kampung batik tertua di Indonesia. Batik merupakan kebudayaan tradisional Indonesia yang masih bertahan secara konsisten dan memiliki nilai tambah yang tinggi, terutama di Kampung Laweyan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengembangan industri batik laweyan agar dapat bersaing di pasar. Cara pengembangan dapat dilakukan dengan penyusunan inovasi dan strategi melalui Business Model Canvas.
Tentang Penulis
Fani Pramuditya, S.E., M.B.A. merupakan staf pengajar pada Program Studi Perbankan dengan latar belakang keilmuan di bidang manajemen dan bisnis, yang diperoleh melalui pendidikan Sarjana Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada dan gelar Master of Business Administration dari University of North Carolina at Greensboro, Amerika Serikat. Memiliki kepakaran dalam manajemen bandara, studi kelayakan pasar, serta pengembangan bisnis berkelanjutan, Fani aktif berkontribusi dalam penguatan kapasitas UKM melalui pendekatan strategis dan berbasis riset. Minat risetnya mencakup kewirausahaan, inovasi dan kreativitas, kemiskinan, serta manajemen rantai pasok, yang tercermin dalam berbagai publikasi ilmiah dan kegiatan pengabdian masyarakat. Dalam pengajaran, ia mengampu mata kuliah berbasis praktik seperti kewirausahaan, design thinking, inovasi, dan sistem teknologi informasi, serta mendorong integrasi antara akademik, riset, dan industri guna menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa di era ekonomi digital yang berkelanjutan.
IKUTI KELASNYA di UGM Online
REFERENSI
Harvard Business Review. (2013). A better way to think about your business model. Diakses pada 25 Juni 2025, darihttps://hbr.org/2013/05/a-better-way-to-think-about-yo
Jasnovaria, R., & Munir, M. (2020). Analisis model bisnis menggunakan Business Model Canvas pada usaha mikro kecil dan menengah. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 5(2), 110–120.
Mullins, J., & Komisar, R. (2009). Getting to plan B: Breaking through to a better business model. Boston: Harvard Business Press.
Osterwalder, A., & Pigneur, Y. (2010). Business model generation: A handbook for visionaries, game changers, and challengers. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.
Strategyzer. (n.d.). What is the Business Model Canvas? Diakses pada 25 Juni 2025, darihttps://www.strategyzer.com/canvas/business-model-canvas
Tim PPM Manajemen. (2019). Business Model Canvas: Cara praktis memahami model bisnis. Jakarta: PPM Manajemen.
Widyawati, S. (2024). Penerapan Business Model Canvas dalam perencanaan bisnis start-up. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 12(1), 45–59.


