Pengertian dan Konsep Dasar Perubahan Iklim
Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang pada statistik iklim (misalnya, rata-rata atau distribusi variabilitasnya) yang berlangsung selama puluhan tahun atau lebih. Perubahan ini menghasilkan pola iklim baru yang bertahan lama, berbeda dari fluktuasi iklim jangka pendek yang disebut variabilitas iklim. Sebagai contoh, fenomena seperti El Niño yang hanya berlangsung beberapa tahun termasuk variabilitas iklim alami dan bukan tergolong perubahan iklim jangka panjang. Dalam konteks ilmu iklim, istilah perubahan iklim mencakup perubahan yang disebabkan oleh segala faktor (alami maupun akibat ulah manusia). Namun, dalam penggunaan modern – terutama di ranah kebijakan lingkungan – istilah ini sering merujuk khususnya pada perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia (dikenal juga sebagai pemanasan global antropogenik). Berikut ini dijelaskan konsep dasar perubahan iklim, perbedaannya dengan variabilitas iklim, faktor-faktor penyebabnya, serta dampak-dampak awal yang telah teramati, termasuk beberapa studi kasus di Indonesia untuk memperdalam pemahaman.
Perubahan Iklim vs Variabilitas Iklim
Secara definisi, perubahan iklim mengacu pada pergeseran dalam keadaan sistem iklim bumi yang terukur secara statistik (misalnya perubahan rata-rata atau pola distribusi suhu, curah hujan, dll.) dan yang bertahan lama (minimal beberapa dekade). Variabilitas iklim di sisi lain mengacu pada variasi alami dalam sistem iklim yang terjadi pada rentang waktu lebih pendek (misalnya tahun-ke-tahun) di sekitar kondisi rata-rata. Variabilitas ini mencakup fenomena seperti siklus musiman dan anomali sementara (misalnya El Niño–Southern Oscillation/ENSO, monsoon tahunan, dll.), yang dapat menyebabkan tahun tertentu lebih basah/kering atau lebih panas/dingin dibanding normal, namun sifatnya temporer. Perbedaan utamanya adalah skala waktu dan persistensi: variabilitas iklim adalah fluktuasi jangka pendek yang akan kembali ke pola semula, sedangkan perubahan iklim adalah tren jangka panjang yang menggeser pola dasar iklim secara permanen atau semi-permanen. Dengan kata lain, jika terjadi anomali cuaca/iklim sesaat (misal satu dekade sangat kering atau fenomena 5 tahunan seperti El Niño kuat), itu bagian dari variabilitas; tetapi bila sistem iklim menunjukkan kecenderungan berubah terus-menerus (misal tren kenaikan suhu rata-rata tiap dekade), itulah perubahan iklim.
Pemahaman perbedaan ini penting agar tidak keliru mengaitkan setiap peristiwa ekstrem dengan perubahan iklim. Ilmuwan menggunakan analisis statistik jangka panjang untuk membedakan keduanya. Perubahan iklim terindikasi ketika tren perubahan melebihi kisaran variabilitas alami. IPCC mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan pada keadaan iklim yang dapat diidentifikasi secara statistik (misalnya melalui uji trend pada rata-rata atau varians) yang berlangsung lama (dekade atau lebih). Sebaliknya, variabilitas iklim didefinisikan sebagai variasi pada rata-rata atau statistik lainnya dari iklim dalam skala spasial-temporal tertentu di luar kejadian cuaca individual. Variabilitas dapat disebabkan oleh proses internal alami dalam sistem iklim maupun oleh faktor eksternal (alamiah atau antropogenik) yang memengaruhi sistem secara sementara.
Faktor Penyebab Perubahan Iklim
Secara umum, penyebab perubahan iklim dibagi menjadi faktor alami dan faktor antropogenik (akibat aktivitas manusia). Berikut adalah penjelasan keduanya:
- Faktor Alami: Termasuk variabilitas internal sistem iklim dan forcing (pemicu) eksternal alami. Contoh faktor internal adalah interaksi kompleks lautan-atmosfer yang dapat mengubah distribusi energi di bumi secara jangka panjang. Faktor eksternal alami meliputi perubahan intensitas radiasi Matahari (misalnya siklus bintik Matahari) dan letusan gunung berapi besar. Letusan vulkanik eksplosif dapat menyuntikkan aerosol (partikel debu dan sulfur) ke stratosfer yang memantulkan sinar matahari sehingga menyebabkan pendinginan global sementara beberapa tahun. Siklus Matahari dapat sedikit memengaruhi iklim dengan mengubah output energi Matahari dalam rentang puluhan tahun atau lebih. Selain itu, perubahan iklim juga pernah terjadi akibat perubahan orbit Bumi (siklus Milankovitch) yang berlangsung ribuan hingga ratusan ribu tahun, meski ini beroperasi pada skala waktu jauh lebih panjang daripada isu perubahan iklim modern. Semua faktor alami ini dapat mengubah keseimbangan energi Bumi dan memicu perubahan iklim alami yang pernah terjadi dalam sejarah geologis (misalnya zaman es dan interglasial).
- Faktor Antropogenik: Ini adalah faktor yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia. Sejak revolusi industri (~1750-an) dan terutama dalam ~170 tahun terakhir, aktivitas manusia menjadi pendorong utama perubahan iklim yang terjadi saat ini. Penyebab utamanya adalah emisi gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer, seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan dinitrogen oksida (N₂O). Emisi GRK terutama berasal dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak, batu bara, gas) untuk energi dan transportasi, proses industri, serta deforestasi dan perubahan penggunaan lahan. Gas-gas ini meningkatkan efek rumah kaca: atmosfer dengan konsentrasi GRK lebih tinggi menjebak lebih banyak radiasi panas yang dipancarkan Bumi, sehingga planet menjadi lebih hangat. Ibarat selimut tebal yang membungkus Bumi, lapisan GRK berlebih mengurangi pelepasan panas ke angkasa dan menyebabkan pemanasan global. Selain GRK, aktivitas manusia juga memengaruhi iklim melalui perubahan penggunaan lahan (misalnya penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan CO₂ dan mengubah albedo/pantulan permukaan Bumi) serta emisi aerosol buatan (misal polusi sulfat yang justru mendinginkan sedikit, tetapi efeknya sementara dan lokal). Kombinasi seluruh aktivitas ini secara persisten mengubah komposisi atmosfer dan karakteristik permukaan Bumi, sehingga memicu tren perubahan iklim jangka panjang.
Para ilmuwan iklim sepakat bahwa penyebab dominan pemanasan global sejak pertengahan abad ke-20 adalah faktor antropogenik, khususnya emisi GRK dari aktivitas manusia. Panel Intergovernmental tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyimpulkan secara tegas bahwa perubahan iklim modern “disebabkan oleh manusia” dan berlangsung dengan cepat, sebagaimana terlihat dari kenaikan suhu global dan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem di seluruh dunia. Kontribusi faktor alami (seperti variasi Matahari atau vulkanisme) terhadap tren pemanasan abad ke-20/21 adalah sangat kecil dibanding pengaruh gas rumah kaca antropogenik, sehingga lonjakan suhu global saat ini tidak dapat dijelaskan oleh faktor alami saja. Dengan kata lain, manusia kini menjadi agen geologis yang mampu mengubah iklim global.
Dampak Awal Perubahan Iklim
Meskipun dampak penuh perubahan iklim akan berlangsung selama abad-abad mendatang, berbagai dampak awal sudah teramati saat ini. Bumi telah mengalami pemanasan yang nyata: suhu permukaan global telah meningkat sekitar +1,1°C dibandingkan era pra-industri (1850-1900). Peningkatan suhu rata-rata ini membawa berbagai konsekuensi pada sistem bumi, di antaranya:
- Peningkatan Cuaca dan Iklim Ekstrem: Perubahan iklim meningkatkan intensitas dan frekuensi banyak peristiwa cuaca ekstrem. IPCC melalui Laporan Penilaian Ke-6 (AR6) menyatakan bahwa pemanasan global akibat ulah manusia telah memperparah kejadian cuaca ekstrem di setiap wilayah dunia. Contohnya, gelombang panas menjadi lebih sering dan intens, hari-hari dengan suhu ekstrim panas meningkat, sementara kejadian hujan lebat yang memicu banjir juga makin sering terjadi di banyak tempat. Di wilayah lain, periode kekeringan memanjang karena perubahan pola presipitasi. Bahkan intensitas siklon tropis cenderung meningkat (badai lebih kuat) seiring kenaikan suhu permukaan laut yang menjadi sumber energinya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa banyak rekor cuaca ekstrem dekade terakhir (misal rekor suhu tertinggi, curah hujan tertinggi) berhubungan dengan tren perubahan iklim ini, bukan semata variabilitas alami. Misalnya, secara global tahun 2023 tercatat sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah instrumental, dengan bulan Juli 2023 sebagai bulan terpanas yang pernah tercatat. Tren ini konsisten dengan pemanasan global dan telah memberikan tekanan tambahan pada sektor sumber daya air dan pertanian. Perubahan iklim bertindak sebagai multiplier yang memperburuk cuaca ekstrim; fenomena seperti El Niño/La Niña masih terjadi secara alami, tetapi di atas itu terdapat kecenderungan umum suhu dan pola cuaca yang lebih ekstrim akibat atmosfer yang lebih hangat dan mengandung lebih banyak uap air.
- Pencairan Es dan Kenaikan Permukaan Laut: Suhu global yang lebih hangat menyebabkan es di seluruh dunia mulai mencair. Gletser gunung di berbagai benua menyusut, lapisan es di Greenland dan Antartika kehilangan massa, dan es laut Arktik musim panas mengalami penyusutan luas dibandingkan beberapa dekade lalu. Salah satu akibat serius dari pencairan es (ditambah ekspansi termal air laut saat menghangat) adalah kenaikan muka air laut global. Data observasi menunjukkan permukaan laut rata-rata global naik sekitar 20 cm sejak akhir abad ke-19 hingga kini, dengan laju kenaikan yang berakselerasi dalam beberapa dekade terakhir (saat ini ~3-4 mm per tahun secara global). Dampaknya mulai dirasakan di kawasan pesisir: banjir pesisir akibat pasang tinggi (banjir rob) dan badai menjadi lebih sering karena garis pantai efektif turun relatif terhadap laut. Kejadian banjir pesisir yang dulunya mungkin terjadi sekali dalam 100 tahun, di banyak tempat kini jauh lebih sering, dan proyeksi IPCC menunjukkan kejadian banjir ekstrem yang dulunya langka bisa terjadi setiap tahun di akhir abad ini akibat kenaikan laut. Perubahan iklim telah “mengunci” kenaikan muka laut selama ratusan tahun ke depan (karena butuh waktu bagi lautan dan es untuk merespons), sehingga meski emisi dihentikan hari ini, muka laut akan terus naik dalam batas tertentu. Ekosistem pesisir seperti mangrove dan terumbu karang juga mulai terancam; kenaikan suhu laut berkontribusi pada pemutihan karang massal, sementara kenaikan muka laut dan perubahan gelombang memicu erosi pantai di banyak lokasi. Dampak-dampak awal ini memperingatkan kita bahwa perubahan iklim bukan isu masa depan semata, melainkan sudah berlangsung sekarang dengan konsekuensi nyata.
- Gangguan Pola Musim dan Ekosistem: Iklim yang berubah juga menggeser pola musim di berbagai tempat. Beberapa wilayah mengalami perubahan onset musim hujan dan kemarau, durasi musim berubah, atau pola cuaca menjadi kurang dapat diprediksi. Hal ini memengaruhi ekosistem dan sektor-sektor yang bergantung pada iklim stabil, seperti pertanian. Tanaman dan hewan juga merespons: misalnya, ada kecenderungan pergeseran distribusi spesies menuju daerah yang lebih sejuk/tinggi, perubahan waktu migrasi satwa, hingga perubahan masa reproduksi tanaman/hewan mengikuti iklim yang berubah. Meskipun perubahan ekosistem ini sering tersamar dan terjadi bertahap, ilmuwan telah mendokumentasikan banyak indikasi bahwa perubahan iklim sudah memengaruhi biosfer (contoh: pergeseran zona bioklimatik pegunungan, penyesuaian waktu berbunga/panen, dsb.).
Perlu dicatat bahwa dampak awal di atas baru permulaan. Jika emisi GRK terus meningkat, model iklim memproyeksikan pemanasan tambahan yang akan membawa dampak jauh lebih besar: misalnya pada pemanasan +2°C, batas toleransi panas bagi kesehatan dan pertanian di banyak tempat akan terlampaui lebih sering, dan banyak perubahan (seperti hilangnya gletser kecil, tenggelamnya delta rendah) bisa menjadi permanen. Oleh sebab itu, memahami tanda-tanda awal ini krusial agar dunia dapat melakukan upaya adaptasi dan mitigasi sedini mungkin.
Studi Kasus: Dampak Perubahan Iklim di Indonesia
Sebagai negara kepulauan tropis, Indonesia termasuk salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kondisi geografis dan sosial Indonesia (ribuan pulau, garis pantai panjang, populasi besar yang bergantung pada agraria dan perikanan) membuatnya sangat terpengaruh oleh perubahan pola iklim. Laporan menunjukkan bahwa Indonesia sudah mengalami peningkatan kejadian bencana terkait iklim; misalnya ~90% bencana di Indonesia pada tahun-tahun terakhir merupakan bencana hidrometeorologis (banjir, longsor, kekeringan, badai) dan trennya meningkat dalam 40 tahun terakhir seiring perubahan iklim. Berikut beberapa contoh nyata (case study) dampak perubahan iklim di Indonesia:
- Perubahan Pola Musim Tanam: Salah satu indikasi perubahan iklim yang dirasakan petani lokal adalah makin sulitnya memprediksi awal musim hujan untuk memulai tanam. Jika dulu pola musim relatif teratur, kini terjadi anomali yang membingungkan petani. Heru Santoso (peneliti iklim dari BRIN) menyampaikan bahwa dulunya mudah menentukan kapan mulai musim tanam berdasarkan pola cuaca, tetapi sekarang musim menjadi lebih sulit diprediksi sehingga mengganggu kalender pertanian. Perubahan pola hujan (jumlah maupun distribusi waktu) diduga terkait pemanasan global yang mengubah sirkulasi monsun regional. Dampaknya, petani bisa mengalami gagal panen jika salah waktu tanam karena curah hujan datang terlambat atau berhenti lebih cepat dari biasanya. Studi lokal di berbagai daerah (misalnya Jawa dan Sumatera) menemukan bukti pergeseran awal musim hujan dan kemarau, yang memaksa penyesuaian jadwal tanam padi dan komoditas lainnya. Hal ini menimbulkan tantangan besar bagi ketahanan pangan, terutama bagi petani skala kecil yang bergantung pada pola iklim tradisional.
- Peningkatan Suhu Ekstrem (Gelombang Panas): Wilayah Indonesia secara umum beriklim tropis lembap, sehingga definisi gelombang panas (heatwave) agak berbeda dari kawasan subtropis. Namun tren kenaikan suhu turut dirasakan di Indonesia melalui makin seringnya hari-hari sangat panas dan malam yang lebih hangat. Tahun 2019 dan 2020 BMKG mencatat rekor suhu maksimum harian baru di beberapa kota (misal mencapai >38°C di Jawa) meski durasi heatwave formal di Indonesia biasanya singkat. Fenomena global tahun 2023 yang mencatat rekor panas juga dirasakan dampaknya: BMKG menyatakan 2023 sebagai “tahun penuh rekor temperatur” di seluruh dunia, dengan kejadian gelombang panas serentak di banyak tempat. Meskipun Indonesia tidak dilanda gelombang panas berkepanjangan seperti di Amerika Utara atau Eropa, udara yang lebih panas dan terik dirasakan di berbagai daerah. Kondisi ini diperparah oleh kelembapan tinggi, sehingga indeks panas (heat index) makin berbahaya bagi kesehatan. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menegaskan bahwa situasi suhu ekstrem yang melanda Indonesia dan dunia tersebut merupakan dampak dari perubahan iklim global. Implikasi kenaikan suhu di Indonesia antara lain meningkatkan tekanan pada ketersediaan air (karena evaporasi lebih tinggi, kekeringan lebih mungkin) dan dapat menurunkan produktivitas pertanian (misal tanaman jagung dan padi sensitif terhadap suhu tinggi terutama saat fase pembungaan). Di sektor kesehatan, gelombang panas dapat meningkatkan risiko heat stress dan penyakit terkait panas, terutama di perkotaan (fenomena urban heat island memperburuk). Walau saat ini Indonesia relatif jarang mengalami gelombang panas ekstrem menurut definisi klimatologi (peningkatan suhu ≥5°C di atas rata-rata selama ≥5 hari berturut-turut), proyeksi iklim menunjukkan suhu rata-rata Indonesia akan terus naik dan ekstrem panas akan kian sering di masa depan.
- Kenaikan Muka Laut dan Banjir Pesisir: Dampak perubahan iklim yang sangat relevan bagi negara maritim seperti Indonesia adalah naiknya permukaan air laut dan memburuknya banjir pesisir (rob). Pesisir Pantai Utara Jawa merupakan contoh wilayah rentan: daerah datar ini rutin terkena banjir rob, dan perubahan iklim memperparah masalah tersebut. Data menunjukkan laju kenaikan muka laut di beberapa wilayah pesisir Indonesia mencapai 8–10 mm per tahun. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata global, menunjukkan adanya kontribusi faktor lokal (seperti penurunan tanah) bersama dengan tren kenaikan air laut global akibat pemanasan. Menurut kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan, jika tren ini berlangsung terus, permukaan air laut bisa naik ~80 cm dalam 100 tahun, yang berpotensi menenggelamkan sebagian kawasan pesisir utara Jawa. Kota-kota pantai seperti Jakarta, Semarang, dan Pekalongan sudah merasakan dampaknya: garis pantai bergeser masuk ke daratan, infrastruktur pesisir lebih sering terendam, dan masyarakat mengalami banjir rob rutin. Banjir rob bukan hanya menggenangi pemukiman, tetapi juga mencemari air tanah dengan intrusi air asin, merusak lahan pertanian tambak, dan memicu masalah kesehatan (misal penyakit kulit di komunitas pesisir yang sering terendam air laut). Di Jakarta utara, misalnya, kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan air laut membuat banjir pasang semakin luas. BMKG dan World Meteorological Organization (WMO) mencatat bahwa wilayah Indonesia termasuk yang mengalami kenaikan muka laut tertinggi, bahkan melebihi rata-rata global. Ini menjadi alarm bagi pengelolaan wilayah pesisir; tanpa adaptasi (seperti peninggian tanggul, restorasi mangrove, atau relokasi), jutaan penduduk pesisir terancam terdampak. Kasus banjir rob di Indonesia mengilustrasikan bagaimana perubahan iklim dapat memperburuk masalah lingkungan eksisting dan menambah beban ekonomi (kerusakan permukiman, pelabuhan, tambak, dll.).
Contoh-contoh di atas hanya sebagian dari dampak yang tengah berlangsung. Selain itu, Indonesia juga menghadapi ancaman pergeseran pola curah hujan yang dapat meningkatkan risiko banjir bandang di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Statistik BNPB menunjukkan ribuan kejadian banjir dan longsor setiap tahun, yang sebagian besar berkaitan dengan anomali iklim dan curah hujan ekstrem. Tren ini sejalan dengan proyeksi bahwa perubahan iklim akan membuat kejadian hujan ekstrem lebih sering, sehingga adaptasi di sektor pengurangan risiko bencana menjadi krusial. Sektor kelautan juga terpengaruh, misalnya pemutihan karang besar terjadi di perairan tropis (termasuk Indonesia) pada gelombang panas laut tahun 2016 dan 2020, memukul sektor pariwisata bahari dan perikanan. Dari sisi kesehatan, perubahan pola penyakit dapat terjadi (contoh: peningkatan kejadian dengue di dataran tinggi seiring suhu naik memungkinkan nyamuk menyebar ke wilayah yang dulunya terlalu dingin). Semua ini menegaskan bahwa Indonesia berada di garis depan dampak perubahan iklim, sehingga upaya mitigasi dan adaptasi menjadi agenda mendesak secara nasional.
Pemerintah Indonesia sendiri telah mengakui seriusnya isu ini dengan mengintegrasikan agenda perubahan iklim dalam perencanaan pembangunan. Mitigasi dan adaptasi perubahan iklim kini menjadi prioritas lintas sektor dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) (). Berbagai kebijakan strategis telah diluncurkan, seperti Rencana Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) dan target Nationally Determined Contribution (NDC) untuk penurunan emisi. Langkah-langkah ini bertujuan mengurangi laju perubahan iklim sekaligus meningkatkan ketahanan Indonesia menghadapi dampaknya yang tak terhindarkan. Studi kasus di atas dapat menjadi pembelajaran nyata bagi para pembelajar mengenai pentingnya pemahaman ilmiah perubahan iklim untuk mendukung aksi-aksi penanganannya.
Rangkuman dan Refleksi
- Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan signifikan pada statistik iklim (rata-rata maupun variabilitas) yang berlangsung lama (dekadal atau lebih), berbeda dengan variabilitas iklim jangka pendek yang sifatnya sementara. Fluktuasi sesaat (misal fenomena El Niño) bukanlah perubahan iklim jangka panjang.
- Variabilitas iklim vs Perubahan iklim: Variabilitas adalah dinamika alami jangka pendek di sekitar rata-rata iklim (contoh: tahun ini lebih basah, tahun depan lebih kering), sedangkan perubahan iklim adalah pergeseran tren jangka panjang yang melampaui variabilitas alami. Klimatolog membedakan keduanya melalui analisis statistik jangka panjang – perubahan iklim terdeteksi ketika tren perubahan melebihi pola variabilitas normal.
- Penyebab perubahan iklim: Dipicu oleh faktor alami maupun antropogenik. Faktor alami mencakup perubahan output Matahari, letusan vulkanik besar, dan dinamika internal sistem iklim. Faktor antropogenik terutama adalah emisi gas rumah kaca (CO₂, CH₄, dlsb.) dari pembakaran fosil dan deforestasi, yang meningkatkan efek rumah kaca dan menyebabkan pemanasan global. Bukti ilmiah menunjukkan pemanasan pesat ~seabad terakhir didominasi oleh ulah manusia, dengan faktor alami berperan minimal.
- Dampak awal yang teramati: Bumi sudah menghangat sekitar 1,1°C sejak era pra-industri. Konsekuensinya antara lain: meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem (gelombang panas lebih sering, hujan lebat dan banjir meningkat, kekeringan di beberapa wilayah); pencairan es global (gletser menyusut, es Kutub menipis) yang berkontribusi pada kenaikan muka laut ~20 cm sejak 1900-an; serta pergeseran pola musim dan perubahan ekosistem (contoh: musim tanam terganggu, migrasi satwa berubah). Dampak-dampak ini sudah dirasakan sekarang, menandakan krisis iklim sedang berlangsung, bukan sekadar prediksi masa depan.
- Vulnerabilitas Indonesia: Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim. Indikasi nyata termasuk pola musim yang kacau bagi petani (sulit memprediksi musim tanam, peningkatan kejadian bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, kekeringan – ~90% dari total bencana), suhu ekstrem yang mengancam kesehatan dan hasil panen, serta banjir rob pesisir akibat kenaikan muka laut ~8 mm per tahun di pesisir kita. Kasus-kasus ini menunjukkan dampak sosial-ekonomi nyata: dari gagal panen, kerugian infrastruktur, hingga masalah kesehatan di komunitas terdampak.
- Respons dan pentingnya aksi: Menghadapi ancaman ini, upaya mitigasi (mengurangi emisi GRK) dan adaptasi (menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi) menjadi keharusan. Secara global, Perjanjian Paris menargetkan pembatasan pemanasan di bawah 1,5–2°C untuk menghindari skenario terburuk. Secara nasional, Indonesia telah menjadikan isu iklim sebagai prioritas pembangunan lintas sektor () dan berkomitmen menurunkan emisi serta meningkatkan ketahanan. Bagi pembelajar, pemahaman komprehensif mengenai konsep dasar perubahan iklim ini dapat menjadi modal untuk refleksi kritis: apa saja implikasi perubahan iklim terhadap masa depan lingkungan dan kehidupan manusia, serta tindakan apa yang dapat dilakukan mulai dari tingkat individu, komunitas, hingga kebijakan, untuk menghadapi tantangan iklim yang semakin nyata.
Referensi
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Contribution of Working Groups I, II, and III to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Core Writing Team, Lee, H., Romero, J., & Zhai, P. (eds.)]. IPCC, Geneva, Switzerland.
IPCC. (2021). Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Masson-Delmotte, V., Zhai, P., Pirani, A., Connors, S. L., Péan, C., Berger, S., … & Zhou, B. (eds.)]. Cambridge University Press.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). (2023). Laporan Tahunan 2023: Cuaca dan Iklim Ekstrem di Indonesia. Jakarta: BMKG.
Herawati, H., Santoso, H., & Forner, C. (2020). Farmers’ vulnerability and adaptation strategies to climate change and variability in rice production: Case study in Indramayu, West Java, Indonesia. Climate Risk Management, 30, 100265. https://doi.org/10.1016/j.crm.2020.100265
Marfai, M. A., & King, L. (2017). Coastal flood management in Semarang, Indonesia: Issues and Challenges. Journal of Coastal Conservation, 22(5), 803–813. https://doi.org/10.1007/s11852-017-0550-6
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2022). Updated Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Jakarta: KLHK.
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). (2021). Rencana Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API). Jakarta: Bappenas.
National Geographic Society. (2021). Encyclopedia of Climate Change. National Geographic Partners.
World Meteorological Organization (WMO). (2023). State of the Global Climate 2022. Geneva: WMO. https://library.wmo.int/index.php?lvl=notice_display&id=22156
Boer, R., Faqih, A., Perdinan, P., & Situmorang, A. P. (2021). Climate variability and climate change: Impacts on agriculture and water resources in Indonesia. In M. Simarmata & D. Arifin (Eds.), Climate Change Adaptation in Indonesia: Science, Policy, and Experience (pp. 21–48). Springer, Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-030-62073-8_2
Food and Agriculture Organization (FAO). (2020). Global Forest Resources Assessment 2020: Main Report. FAO Forestry Paper No. 184. Rome: FAO.
Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES). (2019). Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services. IPBES Secretariat, Bonn, Germany.
United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). (2021). Glasgow Climate Pact: Outcomes of COP26. UNFCCC. https://unfccc.int/cop26/outcomes
World Resources Institute (WRI). (2021). Forest Pulse: The Latest on the World’s Forests. WRI Publications. https://research.wri.org/forest-pulse
Lindsey, R., & Dahlman, L. (2023). Climate Change: Global Temperature. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Retrieved from https://www.climate.gov/news-features/understanding-climate/climate-change-global-temperature
Rahmstorf, S. (2022). Rising hazard of storm-surge flooding for coastal cities. Proceedings of the National Academy of Sciences, 119(16), e2200711119. https://doi.org/10.1073/pnas.2200711119
Fearnside, P. M. (2018). Deforestation of the Brazilian Amazon. Oxford Research Encyclopedia of Environmental Science. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acrefore/9780199389414.013.102
Rudiarto, I., & Marfai, M. A. (2020). Adaptation strategies to coastal flooding and sea-level rise: A review of current practices in Indonesia. Ocean & Coastal Management, 197, 105322. https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2020.105322
IPCC. (2019). Special Report on the Ocean and Cryosphere in a Changing Climate (SROCC) [Pörtner, H.-O., Roberts, D.C., Masson-Delmotte, V., et al. (eds.)]. IPCC, Geneva, Switzerland.
Measey, M. (2010). Indonesia: A Vulnerable Country in the Face of Climate Change. Global Majority E-Journal, 1(1), 31–45. Retrieved from https://www.american.edu/cas/economics/ejournal/upload/global_majority_e_journal_1_1_measey.pdf
Nicholls, R. J., & Cazenave, A. (2010). Sea-level rise and its impact on coastal zones. Science, 328(5985), 1517–1520. https://doi.org/10.1126/science.1185782
BMKG. (2023). Laporan Cuaca dan Iklim Ekstrem Juli 2023. Jakarta: BMKG. Retrieved from https://www.bmkg.go.id
Harris, N. L., Gibbs, D. A., Baccini, A., et al. (2021). Global maps of twenty-first-century forest carbon fluxes. Nature Climate Change, 11(3), 234–240. https://doi.org/10.1038/s41558-020-00976-6
Pörtner, H.-O., Scholes, R. J., Agard, J., et al. (2021). Scientific outcome of the IPBES-IPCC co-sponsored workshop on biodiversity and climate change. IPBES & IPCC. https://doi.org/10.5281/zenodo.4659158
BNPB. (2021). Indonesia Disaster Data and Information (DIBI). Jakarta: BNPB. Retrieved from https://dibi.bnpb.go.id
Lamb, W. F., Wiedmann, T., Pongratz, J., et al. (2021). A review of trends and drivers of greenhouse gas emissions by sector from 1990 to 2018. Environmental Research Letters, 16(7), 073005. https://doi.org/10.1088/1748-9326/abee4e
Wijaya, A., Juliane, R., Firmansyah, R., & Payne, O. (2017). Six years after moratorium: Deforestation rates Indonesia’s primary forests. World Resources Institute (WRI). Retrieved from https://www.wri.org/blog/2017/07/six-years-after-moratorium-deforestation-rates-indonesias-primary-forests
