Climate Change (1): Konsep Dasar Perubahan Iklim
About Lesson

Berbagai Fakta Ilmiah tentang Perubahan Iklim

 

3.1. Definisi dan Teori Perubahan Iklim

Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan jangka panjang dalam pola cuaca dan suhu rata-rata di Bumi. Perubahan ini dapat terjadi secara alami, misalnya akibat variasi output Matahari atau letusan vulkanik besar, namun dalam konteks modern istilah ini lebih sering merujuk pada pemanasan global yang dipicu oleh aktivitas manusia. Iklim berbeda dengan cuaca; cuaca adalah kondisi atmosfer jangka pendek (harian atau mingguan), sedangkan iklim merupakan rata-rata kondisi cuaca dalam periode panjang (biasanya 30 tahun) di suatu wilayah. Sejak revolusi industri, pembakaran bahan bakar fosil (batubara, minyak, gas) dan penggundulan hutan telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer secara drastis, memicu perubahan iklim antropogenik (disebabkan manusia).

Secara teori, mekanisme utama di balik pemanasan global adalah efek rumah kaca. Atmosfer Bumi mengandung gas-gas seperti uap air, karbon dioksida (CO₂), metana, dinitrogen oksida, dan lain-lain yang bersifat menyerap radiasi inframerah yang dipancarkan permukaan Bumi. Gas-gas ini berfungsi layaknya selimut yang menyelimuti planet, menahan panas di dekat permukaan sehingga suhu Bumi lebih hangat 33°C dibandingkan jika tidak ada atmosfer. Efek rumah kaca alami inilah yang membuat Bumi layak huni; tanpa itu suhu rata-rata permukaan diperkirakan hanya sekitar -18°C, jauh di bawah titik beku. Namun, sejak abad ke-19 konsentrasi CO₂ meningkat pesat dari 280 ppm (pra-industri) menjadi lebih dari 410 ppm saat ini (2020-an), tertinggi dalam setidaknya 2 juta tahun terakhir. Kenaikan ini utamanya disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia (seperti pembakaran fosil dan penggunaan lahan), yang memperkuat efek rumah kaca dan memanaskan planet kita.

Bukti ilmiah kini mengonfirmasi tanpa keraguan bahwa perubahan iklim yang terjadi sejak abad ke-20 didorong oleh ulah manusia. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menyatakan “tidak terbantahkan (unequivocal) bahwa pengaruh manusia telah memanaskan atmosfer, lautan, dan daratan”. Selama periode 1850–1900 hingga 2010–2019, suhu global telah naik sekitar 1.07°C akibat ulah manusia (dengan rentang kemungkinan 0.8°C–1.3°C). Kontribusi pemanasan dari gas rumah kaca sekitar +1.0°C hingga +2.0°C, sebagian dikompensasi oleh pendinginan akibat aerosol sulfur 0.1°C–0.8°C. Faktor alam seperti variabilitas Matahari dan letusan gunung berapi hanya memberikan pengaruh kecil (kurang dari ±0.1°C) terhadap tren tersebut. Dengan kata lain, tanpa emisi gas rumah kaca buatan manusia, kenaikan suhu global yang kini kita saksikan tidak akan terjadi.

Secara historis, iklim Bumi memang pernah berubah akibat faktor alam (misalnya glasiasi dan interglasial dalam 800 ribu tahun terakhir menyebabkan fluktuasi CO₂ antara 180-280 ppm). Namun, laju perubahan saat ini sangat luar biasa. Selama 10 ribu tahun terakhir sebelum era industri, konsentrasi CO₂ relatif stabil di bawah 300 ppm. Kini level CO₂ melonjak 50% di atas ambang itu dalam waktu 200 tahun. Pemanasan yang terjadi pun jauh lebih cepat dibanding periode sebelumnya. Ilmuwan paleoklimatologi menemukan bahwa kenaikan suhu sejak 1970 lebih cepat daripada periode 50-tahunan mana pun setidaknya dalam 2000 tahun terakhir. Empat dekade terakhir juga tercatat sebagai dekade-dekade terhangat secara berurutan sejak pencatatan instrumental dimulai pada 1850. Fakta-fakta ini mendukung teori bahwa akumulasi gas rumah kaca dari aktivitas manusia telah mengganggu keseimbangan energi Bumi, menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim yang menyertainya.

3.2. Tren dan Data Observasi Global

Pengamatan empiris dari berbagai lini menunjukkan sinyal nyata perubahan iklim sedang berlangsung di seluruh dunia. Suhu permukaan global telah meningkat signifikan. Rata-rata suhu global periode 2011–2020 tercatat sekitar +1,09°C lebih tinggi dibanding periode pra-industri 1850–1900. Kenaikan suhu lebih besar di daratan (+1,59°C) daripada di lautan lautan (+0,88°C) akibat panas spesifik air dan distribusi energi. Terlebih lagi, setiap dekade sejak 1980-an lebih hangat daripada dekade sebelumnya; bahkan 10 tahun terhangat dalam catatan modern semuanya terjadi dalam dekade terakhir (2014–2023). Badan PBB WMO dan NOAA melaporkan 2023 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, sekitar 1,35°C di atas rata-rata pra-industri. Tren pemanasan tidak merata secara geografis: wilayah Arktik memanas lebih cepat dari rata-rata global (lebih dari dua kali lipat rata-rata dalam 50 tahun terakhir) akibat umpan balik es-albedo. Sebaliknya, beberapa bagian samudra selatan memanas lebih lambat. Meski bervariasi, kecenderungan globalnya jelas meningkat: Bumi kini lebih panas +1°C dibanding 150 tahun lalu.

Perubahan terukur juga tampak pada konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Kadar karbon dioksida (CO₂) melonjak dari 280 ppm pada tahun 1750-an menjadi 410 ppm pada 2019 dan terus meningkat (per 2025 mendekati 420+ ppm). Kadar ini tertinggi dalam setidaknya 2 juta tahun terakhir menurut data inti es dan endapan laut. Begitu pula, konsentrasi metana dan dinitrogen oksida kini mencapai level tertinggi dalam ≥800 ribu tahun. Laju peningkatan CO₂ sekitar 2-3 ppm per tahun dalam dekade terakhir, didominasi oleh emisi dari pembakaran fosil dan deforestasi. Imbas dari akumulasi GRK terlihat pada perubahan komponen sistem iklim lainnya.

Es kutub dan gletser menunjukkan tren penyusutan hampir di seluruh dunia. Luas es laut Arktik mengalami penurunan drastis. Setiap akhir musim panas (September), luas es laut minimum Arktik menyusut 12.2% per dekade sejak 1979. Dengan laju ini, Arktik diproyeksikan hampir bebas es di musim panas sekitar pertengahan abad di bawah skenario emisi menengah-tinggi. Gambar berikut mengilustrasikan konsentrasi CO₂ dan suhu dalam siklus glasial-interglasial selama 800.000 tahun, di mana lonjakan curam di ujung kanan menunjukkan kenaikan CO₂ era industri yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala waktu geologi:

 

Gambar 1. Grafik konsentrasi CO₂ atmosfer selama 800 ribu tahun terakhir berdasarkan data inti es. Kadar CO₂ berfluktuasi antara ~180-280 ppm secara alami hingga abad ke-19, kemudian meningkat tajam melewati 400 ppm di era modern. Kadar saat ini jauh melampaui batas maksimum alami sebelumnya (garis kuning horizontal menandai level CO₂ tertinggi pra-industri). Sumber: NASA (climate.nasa.gov).

 

Selain es laut, gletser pegunungan dan lapisan es (ice sheets) di Greenland dan Antarktika juga kehilangan massa dengan cepat seiring pemanasan. Pengukuran gravitasi satelit menunjukkan Greenland rata-rata kehilangan sekitar 270 miliar ton es per tahun dalam dua dekade terakhir. Antarktika kehilangan sekitar 130 miliar ton es per tahun. Pencairan es daratan ini berkontribusi nyata terhadap kenaikan muka air laut global. Ratusan gletser kecil, mulai dari Himalaya hingga Andes, pun mengalami penyusutan dan mundurnya garis es. Laju kehilangan es global telah meningkat; misalnya, rata-rata kehilangan es Greenland 2006–2015 mencapai 278 Gt per tahun (naik dari dekade sebelumnya).

Permukaan laut global kini naik dengan kecepatan dan ketinggian yang belum pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia. Sejak tahun 1900 hingga 2018, permukaan laut rata-rata naik sekitar 20 cm. Yang lebih mengkhawatirkan, laju kenaikannya semakin cepat: dari hanya 1,3 mm/tahun pada 1901–1971, meningkat menjadi 1,9 mm/tahun pada 1971–2006, dan melonjak menjadi 3,7 mm/tahun pada 2006–2018. Laju 3-4 mm/tahun ini sebagian besar dipicu oleh melelehnya es (gletser dan lapisan es) serta pemuaian termal air laut akibat pemanasan. Studi paleoklimat menunjukkan kenaikan 20 cm dalam satu abad ini tidak lazim setidaknya dalam 3000 tahun terakhir. Dampaknya sudah terasa: frekuensi banjir pesisir terkait pasang naik meningkat di banyak kota pantai dunia.

Tren perubahan lain yang teramati termasuk pengasaman lautan, di mana laut menyerap kelebihan CO₂ dan menjadi lebih asam (pH permukaan laut telah turun 0,1 unit sejak era pra-industri). Distribusi presipitasi global juga mulai berubah – umumnya wilayah basah cenderung lebih basah, wilayah kering makin kering, meski dengan variasi regional. Data menunjukkan peningkatan kejadian curah hujan ekstrem di banyak tempat, konsisten dengan atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air. Siklus hidrologi global mengintensif, ditandai lebih seringnya banjir bandang dan kekeringan parah di berbagai belahan dunia.

Secara keseluruhan, data observasi dari suhu, GRK, es kutub, dan muka laut memberikan bukti kuat bahwa iklim Bumi memang sedang mengalami perubahan nyata. Tren-tren ini sejalan dengan prediksi teori efek rumah kaca dan pemanasan global akibat peningkatan emisi GRK. Selanjutnya, komunitas ilmiah menggunakan model iklim untuk memproyeksikan seperti apa tren ini di masa depan, tergantung pada skenario emisi yang kita tempuh.

 

3.3. Proyeksi Iklim Global berdasarkan IPCC dan Skenario Emisi

Masa depan iklim Bumi sangat bergantung pada jumlah gas rumah kaca yang akan kita emiskan di atmosfer dalam dekade mendatang. IPCC dalam Laporan Penilaian Keenam (AR6) menyajikan lima skenario Representative Concentration Pathways/Shared Socioeconomic Pathways (RCP/SSP) yang mewakili berbagai jalur emisi dari sangat rendah hingga sangat tinggi. Secara garis besar, skenario-skenario ini menghasilkan tingkat pemanasan global yang berbeda pada tahun 2100:

  • Skenario SSP1-1.9 (sangat rendah, “optimis”): Emisi diturunkan drastis dan mencapai net-zero CO₂ sekitar tahun 2050. Pemanasan global diperkirakan dipuncaki di sekitar +1,5°C pada pertengahan abad, lalu sedikit turun mendekati +1,4°C di 2100. Skenario ini konsisten dengan target ambisius pembatasan pemanasan 1,5°C sesuai Perjanjian Paris.
  • Skenario SSP1-2.6 (rendah): Emisi turun signifikan tapi agak lebih lambat, mencapai net-zero pada paruh kedua abad. Suhu stabil di sekitar +1,8°C pada 2100, di bawah 2°C.
  • Skenario SSP2-4.5 (menengah “middle of the road”): Emisi mengikuti tren saat ini dengan beberapa pengendalian (mencerminkan komitmen negara saat ini yang moderat). Suhu global diproyeksikan naik ~2,7°C pada tahun 2100. Ini dapat dianggap skenario “business-as-usual” moderat.
  • Skenario SSP3-7.0 (tinggi “berbahaya”): Emisi terus meningkat sepanjang abad tanpa upaya mitigasi berarti. Pemanasan bisa mencapai sekitar +3,6°C di 2100. Konsentrasi GRK sangat tinggi, memicu perubahan iklim besar.
  • Skenario SSP5-8.5 (sangat tinggi, “jalan terburuk”): Dunia mengarah pada pembangunan berbasis fosil secara masif hingga emisi CO₂ kira-kira dua kali lipat pada 2100. Akibatnya, pemanasan global dapat melonjak hingga ~4,4°C pada tahun 2100 dibanding era pra-industri. Skenario ini mencerminkan trajektori terburuk dengan dampak yang paling ekstrem.

Perlu dicatat bahwa nilai-nilai di atas adalah perkiraan rata-rata global. Dalam semua skenario, pemanasan di daratan lebih tinggi daripada lautan, dan wilayah kutub mengalami kenaikan terbesar. Juga terdapat rentang ketidakpastian (biasanya likely range ±0,5°C) terkait sensitivitas iklim. Gambar di bawah ini menunjukkan proyeksi beberapa indikator iklim (suhu, es laut, pH laut, dan muka laut) di bawah lima skenario IPCC AR6:

 

Gambar 2. Berbagai indikator perubahan iklim global di bawah lima skenario emisi ilustratif menurut IPCC. Panel (a) menunjukkan perubahan suhu permukaan global relatif 1850–1900; jalur warna mencerminkan skenario SSP1-1.9 (biru muda) hingga SSP5-8.5 (merah). Terlihat bahwa hanya skenario emisi sangat rendah yang menjaga pemanasan di sekitar 1.5°C, sedangkan skenario tinggi mencapai >3°C pada 2100. Panel (b) proyeksi luas es laut Arktik setiap bulan September; es laut hampir hilang pertengahan abad pada skenario tengah-tinggi. Panel (c) penurunan pH permukaan laut (asam meningkat) seiring emisi yang berlanjut. Panel (d) kenaikan muka laut global; pada 2100 diperkirakan 0,5 m (SSP1-2.6) hingga 1 m (SSP5-8.5), dengan ketidakpastian tambahan dari kemungkinan lepasnya lapisan es Antarktika (garis putus-putus merah).

 

Proyeksi di atas menunjukkan semakin tinggi emisi, semakin besar perubahan iklim yang terjadi. Misalnya, pada pemanasan 1,5°C dunia masih mengalami peningkatan gelombang panas dan curah hujan ekstrem, tetapi dampaknya relatif lebih dapat diadaptasi dibanding skenario 3°C atau 4°C. Sebaliknya, pemanasan >3°C akan membawa perubahan besar: gelombang panas yang dahsyat menjadi sering, lapisan es di Greenland bisa memasuki titik kritis pelelehan tak terbalik, dan kenaikan muka laut berpotensi melebihi 1 meter dalam beberapa abad. Bahkan, IPCC memperingatkan bahwa skenario emisi tertinggi dapat memicu perubahan tak terbalik jangka panjang seperti runtuhnya sebagian lapisan es Antarktika Barat, yang pada akhirnya (dalam ratusan tahun) dapat menaikkan muka laut hingga belasan meter.

Pada pertengahan abad ini (2040-2050), terlepas dari skenario, diproyeksikan dunia akan mencapai atau melampaui ambang +1,5°C pemanasan (karena inersia sistem iklim dan emisi masa lalu). Namun, jalur emisi setelah itu sangat menentukan apakah suhu stabil, atau terus melonjak. Perbedaan antara skenario rendah dan tinggi sangat signifikan: sekitar 2100, dunia bisa relatif stabil di +1,5–2°C (jika emisi ditekan), atau mengalami pemanasan ekstrem >4°C (jika emisi dibiarkan lepas kendali). Demikian pula, proyeksi kenaikan muka laut bervariasi dari 0,4–0,6 meter (skenario rendah) hingga 0,8–1 meter (skenario tinggi) pada tahun 2100, dengan konsekuensi jangka panjang yang jauh lebih besar pada skenario tinggi.

Intinya, ilmu pengetahuan memberikan peta jalan kondisi iklim masa depan berdasarkan pilihan manusia dalam mengelola emisi. Skenario optimis memerlukan reduksi emisi yang sangat cepat dan transisi ke energi bersih, tetapi menawarkan stabilisasi iklim. Skenario pesimis terkait kegagalan pengendalian emisi akan membawa perubahan iklim yang sangat merusak di penghujung abad 21 dan setelahnya. Bagian berikut akan membahas potensi dampak dari perubahan iklim tersebut, baik secara global maupun regional.

 

3.4. Dampak Perubahan Iklim: Global dan Regional

Perubahan iklim bukan sekadar statistik suhu; ia telah dan akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan di Bumi. Dengan ~1,1°C pemanasan yang telah terjadi, dampak global sudah dapat diobservasi: mencairnya es di kutub, kenaikan muka air laut, perubahan pola hujan, dan peningkatan kejadian cuaca ekstrem. IPCC menyatakan bahwa pemanasan yang telah berlangsung telah menyebabkan dampak luas dan kerugian pada alam dan manusia, termasuk meningkatnya frekuensi gelombang panas, hujan lebat, kekeringan, dan siklon tropis intens. Setiap tambahan pemanasan 0,5°C diperkirakan akan secara nyata meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem tersebut.

Secara global, perubahan iklim mengancam berbagai sektor dan wilayah. Beberapa dampak utama yang diidentifikasi meliputi:

  • Kenaikan muka laut dan banjir pesisir: Dengan laut yang naik, kawasan pesisir dan pulau kecil menghadapi banjir rob lebih sering dan intrusi air asin ke air tanah. Kota-kota dataran rendah (Jakarta, Bangkok, Miami) semakin rentan. Banjir pesisir yang dulunya kejadian langka bisa menjadi rutin setiap tahun pada paruh kedua abad ini di banyak lokasi.
  • Ekstrem suhu yang mematikan: Gelombang panas yang dahulu jarang kini terjadi lebih sering dan intens. Misalnya, gelombang panas Eropa 2022 memecahkan rekor suhu >40°C di Inggris. Pemanasan global meningkatkan peluang kejadian semacam itu puluhan kali lipat. Dampak pada kesehatan manusia serius seperti heatstroke, dehidrasi, hingga kematian.
  • Perubahan pola hujan dan kekeringan: Iklim yang lebih hangat mengubah sirkulasi atmosfer. Banyak wilayah kering (misal Mediterania, Timur Tengah) cenderung makin kering, memperburuk kekurangan air dan kebakaran hutan. Sebaliknya, wilayah monsun bisa mengalami curah hujan lebih ekstrem dalam waktu singkat, memicu banjir bandang. Variabilitas tahun-ke-tahun juga meningkat, menyulitkan perencanaan pertanian.
  • Dampak terhadap ekosistem: Banyak spesies flora dan fauna kesulitan beradaptasi dengan perubahan cepat. Terumbu karang, misalnya, mengalami pemutihan massal ketika suhu laut naik; diproyeksikan >70% terumbu karang tropis bisa musnah jika pemanasan mencapai 1,5–2°C. Ekosistem Arktik juga terganggu dengan mencairnya es laut, mengancam spesies seperti beruang kutub yang bergantung pada es untuk berburu. Perubahan iklim mendorong perpindahan kisaran habitat, beberapa spesies bermigrasi ke kutub atau ke dataran lebih tinggi untuk mencari suhu lebih sejuk, yang dapat mengganggu keseimbangan ekologi setempat.
  • Ketahanan pangan dan air: Sektor pertanian sangat tergantung iklim. Perubahan pola curah hujan, pergeseran musim tanam, dan meningkatnya stress panas pada tanaman menurunkan produktivitas pangan di banyak tempat. FAO mengkhawatirkan penurunan hasil panen akibat perubahan iklim dapat mengancam ketahanan pangan global, terutama di negara berkembang. Selain itu, sekitar setengah populasi dunia kini mengalami kekurangan air serius setidaknya satu bulan per tahun akibat kombinasi perubahan iklim dan faktor lain. Kekeringan yang dipicu iklim telah melanda misalnya Afrika Selatan (Day Zero di Cape Town 2018) dan kekeringan panjang di Suriah yang diduga berkontribusi pada krisis sosial.
  • Kesehatan manusia: Perubahan iklim berdampak pada kesehatan melalui berbagai jalur, gelombang panas meningkatkan mortalitas, banjir dan badai menyebabkan cedera dan penyakit, perubahan pola penyakit menular (contoh: nyamuk malaria dan demam berdarah meluaskan jangkauan seiring suhu menghangat). Polusi asap kebakaran hutan (yang makin sering terjadi karena kekeringan) mengganggu pernapasan jutaan orang. Isu kesehatan mental pun muncul, misalnya eco-anxiety dan stres pasca-bencana.

Dampak-dampak di atas tidak terjadi secara merata; terdapat kerentanan regional yang berbeda. IPCC melaporkan sekitar 3,3 hingga 3,6 miliar orang hidup di konteks yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Populasi di Afrika, Asia Selatan, Amerika Latin, negara kepulauan kecil, dan Arktik termasuk yang paling rentan. Misalnya, komunitas di Sahel Afrika menghadapi kombinasi mematikan: kekeringan kronis, degradasi lahan, dan kemiskinan, sehingga perubahan iklim memperburuk kerawanan pangan. Demikian pula, negara-negara pulau kecil Pasifik (seperti Tuvalu, Kiribati) menghadapi risiko eksistensial karena kenaikan muka laut bisa menenggelamkan wilayah mereka dalam beberapa dekade mendatang.

Wilayah Arktik sudah mengalami pergeseran dramatis, mencairnya permafrost merusak infrastruktur, dan masyarakat asli yang bergantung pada es/Salju untuk berburu merasakan hilangnya mata pencaharian. Sementara itu, wilayah pegunungan dengan gletser (Himalaya, Andes) mengalami penurunan aliran air di musim kemarau setelah gletser menyusut, mengancam suplai air irigasi jutaan petani hilir.

Perubahan iklim juga berpotensi memicu migrasi dan konflik. Contohnya, kejadian kekeringan parah dan gagal panen bisa mendorong migrasi penduduk desa ke kota atau lintas negara. Persaingan atas sumber daya yang menipis (air, lahan subur) dapat memperburuk ketegangan sosial. Bank Dunia memperkirakan puluhan juta “pengungsi iklim” internal dapat muncul pada 2050 di Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin jika tren berlanjut.

Singkatnya, dampak perubahan iklim bersifat multidimensi dan saling terkait: lingkungan, ekonomi, dan sosial. Risiko ini meningkat seiring besarnya perubahan iklim. Pada pemanasan 1,5°C beberapa dampak masih bisa dikelola melalui adaptasi, tetapi pada >2°C banyak ekosistem dan sistem manusia mungkin kewalahan. Sebagai contoh, risiko terhadap keamanan pangan diproyeksikan meningkat tajam di atas 2°C, produksi global biji-bijian bisa turun beberapa persen per derajat pemanasan, dengan Afrika dan Asia rentan terhadap gagal panen. Risiko keruntuhan ekosistem seperti terumbu karang hampir pasti pada 2°C (dengan estimasi >99% karang tropis hilang). Oleh karena itu, memahami dampak ini penting untuk mendorong aksi mitigasi dan adaptasi yang tepat.

Selanjutnya, kita akan melihat secara lebih spesifik kasus Indonesia, mengingat negara kepulauan tropis ini rentan terhadap berbagai aspek perubahan iklim, dari naiknya permukaan laut hingga perubahan pola musim yang dapat mengganggu sektor agraris.

 

3.5. Studi Kasus di Indonesia

Indonesia sebagai negara kepulauan tropis dengan lebih dari 17.000 pulau menghadapi tantangan unik akibat perubahan iklim. Meskipun kontribusi emisi Indonesia secara global relatif kecil, letak geografis dan kondisi sosial ekonomi membuat Indonesia rentan terhadap dampak perubahan iklim. Beberapa indikasi dan dampak yang telah dan akan dirasakan di Indonesia antara lain:

Perubahan Suhu dan Musim. Data menunjukkan Indonesia turut mengalami tren pemanasan sejalan dengan rata-rata global. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa suhu udara di Indonesia telah meningkat sekitar 1°C dalam 40 tahun terakhir. Tahun 2016 (saat El Niño kuat) tercatat sebagai tahun terpanas, disusul 2020 sebagai tahun terpanas kedua di Indonesia sejak pengukuran modern. BMKG melaporkan anomali suhu 2020 sekitar +0,8°C di atas rata-rata klimatologis nasional. Tren pemanasan ini juga tercermin pada perubahan fenomena musim. Pola musim hujan dan kemarau cenderung bergeser: penelitian dan laporan lokal menunjukkan musim kemarau cenderung lebih panjang, sementara musim hujan datang lebih lambat namun dengan intensitas curah hujan lebih tinggi. Petani di banyak daerah mengeluhkan sulitnya memprediksi awal musim tanam karena ketidakpastian ini. Sebagai contoh, di Nusa Tenggara Timur pola hujan yang berubah telah menyebabkan kekeringan berkepanjangan di musim yang seharusnya penghujan, mengganggu jadwal tanam dan panen. Secara statistik, beberapa studi memproyeksikan penundaan awal musim hujan hingga beberapa minggu di bagian barat Indonesia dan intensifikasi hujan pada puncak musim di sebagian besar wilayah. Hal ini berarti periode kering bertambah lama, diikuti hujan sangat lebat pada saat datang, meningkatkan risiko gagal panen maupun banjir.

Dampak pada Sektor Pertanian. Perubahan pola curah hujan dan naiknya suhu sudah memengaruhi sektor pertanian Indonesia yang mayoritas berbasis hujan (rain-fed). Dengan kemarau lebih panjang, risiko kekeringan meningkat terutama di sentra beras Jawa dan Nusa Tenggara. Satu laporan menyebutkan perubahan iklim dapat menurunkan produksi padi di Pulau Jawa sekitar 5% pada 2025 dan 10% pada 2050 jika tidak diantisipasi. Alasannya, pergeseran musim membuat masa tanam kacau dan memperbesar kemungkinan tanaman mengalami kekeringan di fase kritis atau sebaliknya terkena hujan lebat/pembanjiran di luar prediksi. Selain itu, kenaikan suhu mempercepat evapotranspirasi sehingga tanaman membutuhkan lebih banyak air. Stres panas juga dapat menurunkan hasil gabah dan memperpendek siklus pertumbuhan. Petani melaporkan peningkatan serangan hama dan penyakit tanaman; hal ini sesuai literatur bahwa hama (misal wereng, ulat grayak) lebih cepat berkembang biak di suhu lebih hangat. Di daerah pesisir, kenaikan muka laut mulai mengganggu lahan pertanian. Fenomena intrusi air asin telah dilaporkan merusak lahan sawah di Pantura Jawa, seperti Indramayu dan Demak, mengurangi kesuburan tanah akibat peningkatan salinitas. Persawahan pasang surut di pantai juga semakin rentan terkena banjir rob. Semua ini menjadikan pertanian sebagai salah satu sektor paling terdampak iklim di Indonesia, sebagaimana diingatkan BMKG bahwa pertanian adalah sektor yang paling rentan mengalami kerugian akibat variabilitas dan perubahan iklim. Tanpa upaya adaptasi (seperti varietas tahan kekeringan atau perbaikan manajemen air), perubahan iklim dapat mengancam ketahanan pangan nasional.

Banjir Pesisir (Rob) dan Kenaikan Muka Laut. Banyak penduduk Indonesia bermukim di dataran rendah pesisir. Perubahan iklim memperburuk masalah banjir rob yang sudah dialami kota-kota pesisir, terutama di pantai utara Jawa. Kombinasi kenaikan muka laut global (3-4 mm/tahun) dan penurunan tanah lokal membuat kawasan seperti Jakarta Utara sering dilanda banjir pasang laut. BMKG mengkonfirmasi bahwa kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global telah meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir rob di Jakarta Utara dan sekitarnya. Peneliti BMKG menyebut banjir rob sekarang merupakan bukti nyata dampak perubahan iklim di pesisir. Misalnya pada Desember 2022 dan November 2023, banjir rob besar merendam permukiman di Jakarta Utara selama beberapa hari, memaksa evakuasi warga. Di Semarang, rob kronis membuat beberapa desa pesisir tergenang permanen. Selain mengancam permukiman, infrastruktur pelabuhan, jalan pesisir, dan tambak perikanan turut terdampak. Di pantai utara Jawa, telah teramati penetrasi air laut lebih jauh ke daratan, mengakibatkan pohon-pohon mangrove mati dan tanah pesisir menjadi payau. Pemerintah daerah berupaya membangun tanggul laut dan pompa, tetapi BMKG mengingatkan bahwa adaptasi fisik saja mungkin tidak cukup jika tren muka laut terus naik. Banjir rob yang dulunya setahun sekali saat perihelion, kini terjadi hampir setiap bulan purnama di beberapa lokasi. Untuk jangka panjang, komunitas pesisir berpenghasilan rendah sangat rentan, sehingga relokasi mungkin perlu dipertimbangkan jika level laut naik sesuai proyeksi (sekitar 0,5-0,8 m pada 2100 di pesisir Indonesia, tergantung skenario).

Perubahan Iklim dan Bencana Hidrometeorologi. Indonesia sudah rawan bencana seperti banjir bandang dan longsor karena curah hujan tinggi. Perubahan iklim berpotensi meningkatkan intensitas hujan ekstrem, sehingga banjir bandang lebih sering terjadi. Data menunjukkan tren meningkatnya hujan harian ekstrim (persentil 95) di beberapa wilayah Indonesia. Kasus banjir besar Jabodetabek awal 2020 misalnya, diduga diperparah oleh curah hujan yang memecahkan rekor (terkait kondisi atmosfer yang dipengaruhi pemanasan). Demikian pula, musim kemarau yang lebih panjang bisa memperluas area rawan kekeringan dan kebakaran hutan/lahan. Pada tahun kering (seringkali dipicu El Niño), seperti 2015 dan 2019, kebakaran lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan menghasilkan kabut asap masif. Perubahan iklim diperkirakan membuat episode kekeringan parah semacam itu lebih mungkin terjadi, meski interaksi dengan siklus El Niño masih dominan. Di sektor kesehatan, perubahan pola curah hujan memengaruhi penyakit tropis: periode kemarau panjang diikuti hujan deras dapat memperluas habitat nyamuk Aedes (dengue) dan Anopheles (malaria) ke area baru.

Menyadari ancaman-ancaman ini, pemerintah dan komunitas di Indonesia mulai melakukan langkah adaptasi. Misalnya, BMKG telah meningkatkan layanan peringatan dini iklim, seperti informasi prakiraan awal musim hujan/kemarau yang lebih detail untuk membantu petani menyesuaikan jadwal tanam. Di sektor pertanian, introduksi varietas padi toleran kekeringan dan shifting pola tanam dilakukan di beberapa daerah. Untuk pesisir, pembangunan sabuk hijau mangrove digalakkan sebagai penahan alami abrasi dan rob, contohnya program rehabilitasi mangrove di pantai Demak yang berhasil mengurangi abrasi. Namun, adaptasi memiliki batas  khususnya di bawah skenario pemanasan tinggi, sehingga mitigasi global tetap krusial untuk mencegah dampak terburuk.

Studi kasus Indonesia menggambarkan bahwa perubahan iklim bukan ancaman jauh di masa depan, melainkan realitas yang sudah berlangsung dan menyentuh kehidupan sehari-hari, dari sawah yang mengering hingga rumah yang terendam rob. Tantangannya bersifat lintas sektor, sehingga membutuhkan respon terpadu. Bagian terakhir berikut akan merangkum temuan dan menggarisbawahi langkah-langkah yang perlu diambil ke depan.

 

3.6. Ilustrasi Grafik dan Penjelasannya

Untuk memperkuat pemahaman mengenai fakta-fakta ilmiah di atas, disajikan dua ilustrasi grafis berbasis data sains iklim dari IPCC, BMKG, dan literatur ilmiah, beserta penjelasannya.

Ilustrasi 1: Tren Konsentrasi CO₂ dan Suhu Global Jangka Panjang. Gambar CO₂ 800 ribu tahun (yang telah disisipkan sebelumnya) menunjukkan betapa tingginya konsentrasi karbon dioksida saat ini dibanding fluktuasi alami selama siklus glasial. Selama ratusan ribu tahun, CO₂ tidak pernah melebihi ~300 ppm, namun sejak era industri grafik menanjak hampir vertikal hingga >400 ppm. Kenaikan CO₂ ini beriringan dengan kenaikan suhu global yang tajam dalam 150 tahun terakhir. Ilustrasi ini menegaskan hubungan erat GRK dan suhu: ketika CO₂ melonjak akibat aktivitas manusia, suhu rata-rata global pun terdongkrak keluar dari kisaran variabilitas alaminya. Bagi pembuat kebijakan dan publik, grafis ini menyampaikan pesan sederhana – saat ini atmosfer mengandung “selimut” GRK yang jauh lebih tebal daripada masa pra-industri, sehingga planet pasti lebih panas. Konsekuensi langsungnya adalah perubahan iklim yang kita lihat buktinya lewat data tren suhu, es, dan muka laut.

Ilustrasi 2: Proyeksi Perubahan Iklim di Bawah Skenario Berbeda. Gambar SPM.8 IPCC AR6 (yang disisipkan sebelumnya) memperlihatkan proyeksi multivariate – suhu, es laut, pH laut, dan muka laut – untuk lima jalur emisi. Penjelasan detailnya: Panel (a) memperlihatkan suhu global meningkat dengan laju berbeda; skenario biru (SSP1) relatif mendatar setelah pertengahan abad karena emisi turun, sedangkan garis merah (SSP5) naik tajam hingga akhir abad. Panel (b) menunjukkan luas es laut Arktik pada September menurun di semua skenario, dan nyaris mencapai nol pertengahan abad pada jalur emisi tinggi (Arktik tanpa es musim panas). Panel (c) menunjukkan asamifikasi laut: semua skenario menyebabkan penurunan pH (laut makin asam) sebanding dengan emisi kumulatif CO₂, skenario merah menyebabkan penurunan pH terbesar (lebih berbahaya bagi karang dan biota berkerangka kalsium karbonat). Panel (d) menunjukkan kenaikan muka laut: bahkan pada skenario terendah, muka laut naik mendekati 0,5 m pada 2100, dan 0,8 m pada skenario tinggi, dengan kemungkinan lebih tinggi jika skenario sangat ekstrim (garis putus-putus untuk skenario 8.5 mencakup proses pencairan es yang lebih cepat). Ilustrasi ini menggambarkan prinsip sebab-akibat: pilihan emisi (penyebab) menentukan tingkat perubahan iklim (akibat). Visualisasi multi-panel seperti ini membantu pembaca memahami bahwa perubahan iklim mempengaruhi berbagai komponen (atmosfer, lautan, kriosfer) secara simultan. Selain itu, shaded area (wilayah arsiran) di grafik suhu dan muka laut menunjukkan rentang ketidakpastian, meski ada ketidakpastian ilmiah, tren perbedaannya jelas antar skenario. Inti narasi grafis: jika dunia menekan emisi (jalur biru/hijau), perubahan masih terjadi tapi relatif moderat; jika terus seperti sekarang atau lebih buruk (jalur oranye/merah), dampaknya akan jauh lebih besar dan berpotensi melampaui kapasitas adaptasi.

Dengan kedua ilustrasi di atas, pembaca diharapkan dapat menghubungkan titik-titik fakta: mulai dari histori variabilitas iklim alami, gangguan antropogenik melalui emisi GRK yang terlihat jelas pada data CO₂, hingga konsekuensi ke depan yang tergambar pada proyeksi skenario. Grafis dan data ilmiah adalah alat penting untuk mengkomunikasikan realitas perubahan iklim secara lebih mudah dicerna dan visual, memperkuat pemahaman konsep yang kadang abstrak jika hanya dijelaskan lewat teks.

 

3.7. Kesimpulan dan Arah Tindakan

Perubahan iklim merupakan fakta ilmiah yang tak terelakkan: iklim Bumi sedang berubah dengan cepat akibat ulah manusia. Bukti-bukti telah kita ulas mulai dari definisi dan teori dasar, data observasi (suhu yang meningkat, gas rumah kaca melonjak, es mencair, laut naik), proyeksi model ke depan, hingga dampak-dampak nyata yang dirasakan di seluruh dunia dan di Indonesia. Secara ringkas, planet kita telah memanas 1,1°C sejak abad ke-19, dan lintasan saat ini menuju pemanasan lebih lanjut yang berbahaya jika emisi gas rumah kaca tidak dikendalikan. Dampak perubahan iklim bersifat menyeluruh: lingkungan fisik terganggu (cuaca ekstrem, kenaikan muka laut, dsb.), ekosistem terancam, dan kehidupan manusia (pertanian, kesehatan, ekonomi) ikut terdampak. Wilayah dan komunitas rentan – termasuk banyak di Indonesia – sudah merasakan beban perubahan iklim, padahal ini baru awal dari skenario yang lebih besar di akhir abad.

Dari sudut pandang ilmiah, kesimpulan utamanya adalah: kita sedang berada dalam era yang lebih hangat, dan skala maupun laju pemanasan ini tidak pernah dialami peradaban modern. Aktivitas manusia menjadi pendorong dominan, sehingga masa depan iklim tergantung pada tindakan manusia juga. Kabar baiknya, ilmu iklim juga memberi harapan: dengan membatasi emisi, kita dapat mencegah skenario terburuk. Misalnya, menahan pemanasan di 1,5–2°C akan jauh lebih aman dibanding membiarkannya mencapai 3–4°C. Setiap setengah derajat berarti. Namun, jendela waktu untuk bertindak cepat menyempit. IPCC menegaskan bahwa untuk menjaga target 1,5°C, emisi global harus memuncak sebelum 2025 dan turun 43% dari level 2019 pada tahun 2030, lalu mencapai nol bersih (net-zero) sekitar 2050. Ini tantangan besar yang butuh transformasi sistem energi, transportasi, industri, dan penggunaan lahan secara menyeluruh.

Arah tindakan yang diperlukan dapat dibagi menjadi dua: mitigasi dan adaptasi. Mitigasi adalah upaya mengurangi laju perubahan iklim dengan menekan emisi GRK atau meningkatkan serapan karbon. Secara global, ini berarti pergeseran revolusioner dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan (surya, angin, hidro, dsb.), efisiensi energi, konservasi hutan dan reforestasi, serta pengembangan teknologi rendah karbon (misal kendaraan listrik, hidrogen hijau). Bagi Indonesia, mitigasi mencakup melindungi hutan tropis (sebagai penyerap karbon dan penyangga iklim), mengendalikan kebakaran lahan gambut, beralih ke energi terbarukan sesuai target bauran energi, dan memperbaiki praktik pertanian/perkebunan agar rendah emisi. Indonesia telah berkomitmen melalui NDC (Nationally Determined Contribution) untuk menurunkan emisi 29% di bawah skenario BAU pada 2030, dan mencapai net-zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Pencapaian ini membutuhkan kebijakan tegas, pendanaan hijau, serta transfer teknologi internasional.

Sementara itu, adaptasi adalah penyesuaian sistem manusia atau alam untuk mengurangi kerentanan terhadap dampak yang terjadi maupun yang akan datang. Mengingat beberapa perubahan iklim sudah tak terhindarkan (misal kenaikan muka laut puluhan cm akan terjadi walau kita hentikan emisi hari ini karena lag respons lautan), adaptasi sama pentingnya. Contoh langkah adaptasi di Indonesia: pembangunan infrastruktur tahan iklim (misal peninggian tanggul pantai, kanal pengendali banjir di kota besar), diversifikasi tanaman dan pola tanam bagi petani untuk menghadapi musim yang berubah, penguatan sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi oleh BMKG agar masyarakat lebih siap, penyediaan sumber air alternatif di daerah rawan kekeringan, dan pengintegrasian pertimbangan risiko iklim dalam perencanaan pembangunan (climate-proof development). Pendekatan Nature-based Solutions juga menjanjikan, seperti restorasi mangrove dan terumbu karang untuk melindungi pantai dan perikanan, atau agroforestri untuk ketahanan pertanian.

Skala tantangan memerlukan keterlibatan berbagai pihak: pemerintah, akademisi, sektor swasta, masyarakat sipil, hingga individu. Literasi iklim di kalangan masyarakat perlu ditingkatkan agar dukungan terhadap kebijakan mitigasi/adaptasi menguat. Secara global, kerja sama antar negara sangat penting mengingat iklim adalah isu lintas batas, misalnya melalui pendanaan iklim bagi negara berkembang (Climate Finance), alih teknologi bersih, dan tentunya komitmen ambisius dalam kerangka Perjanjian Paris yang dipantau setiap tahun (COP). Riset dan inovasi juga harus terus didorong, baik untuk pemahaman ilmiah (misal memprediksi iklim regional Indonesia lebih akurat) maupun solusi teknologi (seperti baterai yang lebih efisien, carbon capture storage, dll.).

Sebagai penutup, bab ini menekankan bahwa berbagai fakta ilmiah perubahan iklim sudah jelas di depan mata: dari teori, data historis, hingga proyeksi masa depan. Tantangannya kini bergeser dari “apakah iklim berubah?” menjadi “apa yang bisa dan harus kita lakukan?”. Setiap pembaca  terutama generasi muda diharapkan tidak hanya memahami sainsnya, tetapi juga terdorong untuk ambil bagian dalam aksi iklim, sekecil apapun kontribusinya. Waktu untuk bertindak adalah sekarang, demi memastikan bumi yang layak huni bagi generasi kini dan mendatang. Seperti kata pepatah: “Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang, tapi meminjamnya dari anak-cucu kita.” Dengan ilmu pengetahuan sebagai panduan, mari bergerak menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

 

Referensi

Antara. (2023, November 15). BMKG sebut suhu udara permukaan di Indonesia naik 1,3 derajat celcius. Antara News. Retrieved from sumbar.antaranews.com 

Anthesis Group. (2021, August 9). Five Future Scenarios AR6 IPCC. Anthesis Insights. Retrieved from anthesisgroup.com 

DetikInet – Kamaliah, A. (2024, December 20). Banjir Rob Jakut Seperut Bukti Penurunan Tanah-Perubahan Iklim Parah. Detik News. Retrieved from detik.com 

DIGITANI IPB. (2025, February 7). 4 Dampak Perubahan Iklim terhadap Sektor Pertanian. IPB University – Digitani. Retrieved from digitani.ipb.ac.id 

InfoPublik. (2021). Dampak Perubahan Iklim Global Terhadap Pertanian dan Ketahanan Pangan. InfoPublik.id. Retrieved from infopublik.id 

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2021). Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report (Edited by V. Masson-Delmotte et al.). Cambridge University Press. 

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2022). Climate Change 2022: Impacts, Adaptation, and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report (Edited by H.-O. Pörtner et al.). Cambridge University Press.

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2023). Climate Change 2023: Synthesis Report. Summary for Policymakers. IPCC. 

Lindsey, R., & Dahlman, L. (2024, January 18). Climate Change: Global Temperature. NOAA Climate.gov. Retrieved from climate.gov 

NASA. (2023). Global Surface Temperature Anomalies (1880–2023 data). NASA GISS, data.giss.nasa.gov. (Graph referenced in text: “10 tahun terhangat terjadi dalam dekade terakhir”). 

Ritchie, H., & Roser, M. (2020). CO₂ and Greenhouse Gas Emissions. Our World in Data. Retrieved from ourworldindata.org 

World Meteorological Organization (WMO). (2023). State of the Global Climate 2022 (WMO-No. 1290). World Meteorological Organization. (Data regarding sea level rise acceleration 1993–2022).



0% Complete