Bagaimana dampak perubahan iklim memengaruhi pola iklim global dan regional? Simak penjelasan lengkap tentang perubahan sirkulasi atmosfer, peningkatan cuaca ekstrem, pergeseran monsun, serta tantangan yang dihadapi Indonesia dan Asia Tenggara.
Perubahan iklim global yang dipicu oleh pemanasan suhu rata-rata Bumi telah membawa dampak besar pada sistem iklim. Seiring meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, suhu rata-rata global kini sekitar 1,1°C lebih tinggi dibanding era pra-industri, dan terus bertambah. Pemanasan ini mengubah tidak hanya suhu udara, tetapi juga pola sirkulasi atmosfer dan lautan, mengubah karakteristik cuaca, musim, serta meningkatkan kejadian ekstrem.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan iklim modern telah memengaruhi berbagai aspek cuaca dan iklim ekstrem di hampir semua kawasan dunia. Hujan lebat lebih sering terjadi, musim bergeser, dan fenomena seperti El Niño menjadi lebih ekstrem. Sistem iklim yang sebelumnya relatif stabil, kini menjadi lebih sulit diprediksi.
Perubahan Pola Iklim Global
Salah satu dampak yang paling mencolok adalah menguatnya siklus hidrologi. Udara yang lebih hangat mampu menyimpan lebih banyak uap air — sekitar 7% tambahan uap air untuk setiap kenaikan suhu 1°C. Akibatnya, hujan lebat cenderung meningkat, sementara daerah kering semakin rentan kekeringan.
Selain itu, sirkulasi Hadley — sistem angin global yang memindahkan panas dan kelembapan dari tropis ke subtropis — mengalami perluasan ke arah kutub. Hal ini memperluas zona kering subtropis dan menggeser pola curah hujan lintang menengah. Perubahan ini berkontribusi pada kekeringan yang lebih sering di wilayah seperti Mediterania, AS bagian barat, dan Australia selatan.
Gelombang panas menjadi lebih sering dan lebih kuat, sementara badai dan topan cenderung mengalami peningkatan intensitas, meskipun jumlah total kejadian mungkin tidak selalu naik. Pola angin dan curah hujan global mengalami pergeseran yang kompleks akibat pemanasan atmosfer dan lautan.
Perubahan Pola Iklim Regional: Asia Tenggara
Asia Tenggara, sebagai kawasan maritim tropis, sangat dipengaruhi oleh perubahan sirkulasi global. Suhu di wilayah ini meningkat sekitar 0,9–1,5°C hingga pertengahan abad ini. Curah hujan cenderung lebih ekstrem — hujan lebat meningkat, sementara musim kemarau menjadi lebih kering dan panjang di beberapa wilayah.
Monsun Asia–Australia yang mengatur musim hujan di Asia Tenggara mengalami perubahan: musim hujan cenderung mundur dan lebih singkat, sementara intensitas hujan meningkat. Ketergantungan masyarakat pada musim muson untuk pertanian membuat perubahan ini menjadi tantangan besar bagi ketahanan pangan.
Pengaruh ENSO dan IOD
Fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) adalah penggerak variabilitas iklim antartahun yang paling berpengaruh di Asia Tenggara. Dengan pemanasan global, kejadian El Niño dan IOD positif ekstrem diperkirakan menjadi lebih sering dan lebih kuat.
El Niño kuat menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan di Indonesia, sementara La Niña ekstrem meningkatkan risiko banjir. IOD positif ekstrem juga membawa kekeringan panjang yang memicu bencana kebakaran lahan dan hutan. Studi menunjukkan bahwa IOD positif ekstrem bisa terjadi tiga kali lebih sering di masa depan.
Dampak di Indonesia
Indonesia sudah mengalami dampak nyata: musim hujan yang mundur, musim kemarau yang lebih panjang, hujan ekstrem yang menyebabkan banjir, dan suhu yang makin panas. Sektor pertanian tertekan oleh ketidakpastian musim, sementara risiko bencana hidrometeorologi terus meningkat.
Selain itu, tren peningkatan hari-hari panas dan kejadian gelombang panas mulai terasa di perkotaan Indonesia, memperburuk kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.
Adaptasi dan Upaya Mitigasi
Menghadapi perubahan ini, Indonesia perlu meningkatkan kapasitas adaptasi: mengembangkan sistem peringatan dini, menyesuaikan pola tanam, memperbaiki infrastruktur air, dan mengurangi kerentanan lahan gambut. Selain itu, aksi mitigasi global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca tetap menjadi kunci untuk memperlambat laju perubahan iklim.
Memahami bagaimana perubahan iklim mengganggu pola iklim yang selama ini kita kenal sangat penting untuk perencanaan jangka panjang. Dengan pengetahuan yang terus berkembang, masyarakat dan pemerintah dapat merumuskan strategi yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan iklim masa depan.
Pelajari mengenai perubahan iklim dan bagaimana upaya menanganinya melalui kelas di UGM Online Climate Change (2): Dampak Perubahan Iklim Terhadap Manusia Dan Lingkungan
Instruktur :
Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU, ASEAN Eng. adalah dosen dan peneliti senior di Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, dengan kepakaran di bidang ilmu kehutanan, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), serta konservasi sumber daya hutan. Selama lebih dari dua dekade, beliau aktif mengembangkan berbagai kajian dan proyek ilmiah yang berfokus pada mitigasi bencana hidrometeorologis, manajemen sumber daya air, serta dampak perubahan tutupan lahan terhadap risiko lingkungan. Keilmuan beliau sangat relevan dalam menjawab tantangan perubahan iklim, terutama yang berkaitan dengan kelestarian ekosistem dan pengelolaan lanskap berkelanjutan.
Dr. Hatma aktif mengembangkan berbagai riset terapan terkait respons hidrologi dan konservasi DAS, sekaligus memimpin berbagai kajian tentang strategi pengurangan risiko bencana banjir, longsor, dan kekeringan yang terkait erat dengan perubahan iklim. Ia juga secara intensif terlibat dalam implementasi praktik Climate Smart Village (CSV) bersama kelompok masyarakat rentan, mendukung ketahanan pangan serta memperkuat kapasitas adaptasi masyarakat menghadapi tantangan perubahan iklim. Komitmen terhadap pengabdian masyarakat, transfer pengetahuan dan penerapan teknologi tepat guna menjadi
Referensi
- Cai, W., Santoso, A., Wang, G., Weller, E., Wu, L., Ashok, K., … & Yamagata, T. (2014). Increased frequency of extreme Indian Ocean Dipole events due to greenhouse warming. Nature, 510(7504), 254-258.
- Chen, Y., Teo, F. Y., Wong, S. Y., Chan, A., Weng, C., & Falconer, R. A. (2023). Monsoonal extreme rainfall in Southeast Asia: A review. Water, 17(1), 5. https://doi.org/10.3390/w17010005
- Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2021a). Climate Change 2021: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Sixth Assessment Report. (See Chapter 8 on water cycle; Chapter 11 on extreme events; Regional Fact Sheet – Asia)
- Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). (2022). Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Sixth Assessment Report. (See Chapter 10, Asia)
- Naylor, R. L., Battisti, D. S., Vimont, D. J., Falcon, W. P., & Burke, M. B. (2007). Assessing risks of climate variability and climate change for Indonesian rice agriculture. Proceedings of the National Academy of Sciences, 104(19), 7752-7757.
- NASA Earth Observatory. (2017, July 25). A Delicate Balance: Signs of Change in the Tropics (by A. Voiland, featuring G. Tselioudis). Retrieved from NASA Earth Observatory website.
- NOAA Pacific Marine Environmental Laboratory. (2023). El Niño and La Niña Schematics. National Oceanic and Atmospheric Administration. Retrieved from https://www.pmel.noaa.gov/elnino (illustrative diagrams of Walker circulation and ENSO conditions).
- Timmermann, A., et al. (2020). Advancing knowledge of ENSO in a changing climate. Eos, 101. https://doi.org/10.1029/2020EO144331 (American Geophysical Union)
- World Meteorological Organization (WMO). (2021, Aug 9). Regional trends in extreme events in the IPCC 2021 report. WMO.int. (Summary of IPCC AR6 WGI findings on extremes)
- (Sumber data BMKG) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) – berbagai publikasi iklim Indonesia, termasuk Climate Variability of Indonesia (BMKG, 2020) dan laporan prakiraan musim. (Digunakan untuk informasi pola monsun Indonesia dan pengamatan lokal)

