Oleh: Dr. Hastanti Widy Nugroho, S.S., M.Hum.
Halo, Sobat Digital! Pernah tidak kamu merasa sulit lepas dari HP, bahkan saat sebenarnya tidak ada hal penting yang harus dilakukan?
Di era sekarang, internet dan media sosial sudah jadi bagian dari hidup sehari-hari. Semua terasa cepat, praktis, dan serba terhubung. Tapi di balik itu, ada kebiasaan baru yang mulai terbentuk tanpa kita sadari, yaitu ketergantungan internet dan budaya validasi.
Banyak orang tidak merasa sedang “kecanduan”. Padahal, tanpa sadar, mereka mulai kehilangan kontrol atas cara menggunakan teknologi.
Ketika Internet Jadi Tempat Pelarian
Awalnya, internet membantu aktivitas kamu. Tapi lama-lama, fungsinya bisa berubah.
Saat bosan, kamu scroll. Saat stres, kamu buka media sosial. Saat lelah, kamu cari distraksi digital.
Sekilas terlihat wajar. Tapi kalau terus terjadi, kamu jadi terbiasa lari ke internet, bukan menyelesaikan masalah. Di titik ini, internet bukan lagi alat bantu. Tapi sudah jadi tempat bergantung.

Budaya Validasi. Diam-Diam Membentuk Cara Kamu Berpikir
Sekarang coba perhatikan kebiasaan sederhana ini.
Kamu upload sesuatu, lalu mulai menunggu respons. Berapa yang like? Siapa yang komentar? Bahkan mungkin kamu cek berkali-kali. Kalau responnya bagus, kamu merasa senang. Tapi kalau sepi, muncul rasa tidak puas.
Di sinilah budaya validasi bekerja. Pelan-pelan, kamu mulai menilai diri dari respons orang lain. Padahal, yang kamu butuhkan sebenarnya sederhana. Kamu hanya ingin didengar dan dianggap ada.
Terhubung Secara Digital, Tapi Semakin Jauh Secara Nyata
Banyak orang merasa semakin aktif di media sosial. Tapi di saat yang sama, hubungan di dunia nyata justru menurun. Waktu bersama orang terdekat berkurang. Percakapan jadi singkat. Kehadiran terasa tidak utuh. Akhirnya muncul rasa kosong, meskipun kamu terus online.
Fenomena ini disebut alienasi sosial. Kamu terlihat terhubung, tapi sebenarnya merasa sendiri.
Mengapa Perlu Mulai Sadar Sekarang?
Masalah terbesar dari ketergantungan digital bukan pada teknologinya, tapi pada cara kita menggunakannya. Kalau tidak disadari, kamu bisa terus berada dalam siklus yang sama. Scroll, posting, menunggu validasi, lalu mengulang lagi.
Karena itu, penting untuk mulai mengubah kebiasaan:
• gunakan internet dengan tujuan
• batasi konsumsi yang tidak perlu
• kembalikan interaksi nyata
Perubahan kecil ini bisa memberi dampak besar.
Tantangan Tambahan di Era Post-Truth
Selain soal kebiasaan, ada tantangan lain yang tidak kalah penting. Informasi di internet tidak selalu benar. Banyak konten dibuat untuk menarik perhatian, bukan menyampaikan fakta. Kalau tidak kritis, kamu mudah terbawa arus. Karena itu, penting untuk mulai menyaring, mengecek, dan berpikir sebelum percaya.
Saatnya Mengambil Kendali atas Cara Kamu Berkomunikasi
Ketergantungan internet dan budaya validasi bukan sekadar tren, tapi realitas yang kamu hadapi setiap hari. Jika dibiarkan, dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental, relasi, dan cara kamu melihat diri sendiri. Tapi kamu bisa mengubah itu.
Apakah kamu siap berhenti sekadar mengikuti arus, dan mulai benar-benar memahami cara kamu berkomunikasi di era digital?
Jangan lewatkan kesempatan untuk belajar lebih dalam mengenai komunikasi digital, pola interaksi, dan cara menghindari jebakan validasi melalui program UGM Online. Kelas ini dirancang praktis dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, serta dibimbing langsung oleh para ahli di bidangnya.

