Perubahan global yang cepat, tidak menentu, dan kompleks menuntut pendekatan baru dalam kepemimpinan yang tidak lagi bergantung pada satu gaya atau karakteristik tetap. Di era VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous) dan transformasi digital, pemimpin dihadapkan pada tantangan multidimensional yang membutuhkan kemampuan adaptif, pengambilan keputusan dalam ketidakpastian, serta visi jangka panjang yang berkelanjutan. Artikel ini memperkenalkan konsep Future Leadership, sebuah kerangka kepemimpinan yang dirancang untuk membantu pemimpin menavigasi kompleksitas masa kini dan mempersiapkan organisasi menghadapi masa depan.
Oleh : Dr.nat.techn. Francis M Constance Sigit Setyabudi, S.T.P., M.P.
Studi tentang kepemimpinan telah mengalami perkembangan pesat. Berbagai pendekatan telah digunakan untuk memahami bagaimana pemimpin mempengaruhi, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain. Pendekatan awal, seperti trait approach (pendekatan sifat), berfokus pada karakteristik bawaan pemimpin. Kemudian berkembang menjadi behavioral dan contingency approaches, yang mulai memperhatikan perilaku pemimpin dan kecocokannya dengan situasi tertentu. Lebih lanjut, muncul berbagai gaya kepemimpinan baru seperti transformasional, transaksional, otentik, etis, dan pelayan (servant).
Pendekatan-pendekatan tersebut melihat pemimpin sebagai individu yang stabil dengan seperangkat gaya atau karakteristik tertentu. Namun, dalam konteks dunia saat ini yang semakin dinamis, digital, dan kompleks, pendekatan semacam itu mulai kurang relevan. Kepemimpinan tidak lagi berlangsung dalam lingkungan yang serba pasti dan terstruktur; sebaliknya, pemimpin kini dihadapkan pada situasi yang berubah cepat, tidak menentu, dan sering kali tidak dapat diprediksi (Liden et al, 2025).
Kita saat ini sedang berada dalam fase perubahan yang cepat dan tidak menentu atau disebut sebagai era VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous). Perkembangan teknologi, krisis iklim, tantangan etika, dan ketimpangan sosial membuat model kepemimpinan tradisional tidak lagi cukup untuk menjawab kompleksitas zaman. Situasi ini mendorong munculnya kebutuhan akan kerangka baru dalam kepemimpinan yang menekankan ketangguhan dalam menghadapi tekanan serta kemampuan mengambil keputusan secara proaktif agar organisasi tetap mampu bersaing di tengah disrupsi yang terus berlangsung (Syamsir et al, 2025).
Sustainable leadership mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal hasil jangka pendek, tetapi tentang membangun masa depan yang adil, lestari, dan berkelanjutan bagi semua pihak. Nilai-nilai ini sangat penting, tetapi, dalam dunia yang terus berubah ini, pemimpin tidak cukup hanya berpegang pada nilai-nilai tersebut. Pemimpin juga perlu memiliki kapasitas untuk menavigasi perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengambil keputusan dalam ketidakpastian, dan beradaptasi secara cepat.
Future Leadership (Kepemimpinan Masa Depan) menjadi kerangka pikir baru tentang kepemimpinan. Future leadership bukanlah sekadar gaya kepemimpinan, melainkan sebuah kerangka berpikir. Future Leadership menjelaskan bagaimana kepemimpinan perlu dijalankan dalam konteks dunia yang tidak pasti, cepat berubah, dan kompleks. Berbeda dengan pendekatan kepemimpinan sebelumnya yang dikembangkan pada masa ketika dunia relatif stabil dan perubahan berlangsung perlahan, future leadership hadir sebagai respons terhadap realitas baru. Gaya-gaya kepemimpinan tradisional seperti transformasional, transaksional, atau otentik memang masih relevan, tetapi tidak cukup jika digunakan secara terpisah dan kaku. Satu model atau satu gaya tunggal tidak lagi bisa diandalkan untuk semua situasi. Maka dari itu, dibutuhkan kerangka kepemimpinan baru yang mampu mengintegrasikan berbagai pendekatan yang sudah ada serta menyesuaikannya dengan tantangan masa kini dan masa depan.
Dalam kerangka future leadership, pendekatan atau gaya kepemimpinan tidak bisa dipakai secara tetap, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, dalam situasi krisis, seorang pemimpin mungkin perlu bersikap cepat dan tegas agar organisasi tetap terkendali. Sebaliknya, ketika memimpin tim kreatif yang sedang mengembangkan ide baru, pemimpin perlu memberi ruang, mendengarkan, dan berperan sebagai fasilitator. Selain itu, dalam kerangka future leadership, kepemimpinan tidak lagi ditentukan oleh jabatan, senioritas, atau sifat bawaan, tetapi oleh kemampuan atau kapasitas yang dapat dikembangkan.
Dalam future leadership, seorang future leader membutuhkan kapasitas di antaranya:
Visionary Thinking
Visionary thinking sendiri adalah kemampuan membayangkan masa depan yang lebih baik serta mengajak orang lain untuk bersama-sama menuju arah tersebut. Visionary thinking berkaitan erat pula dengan future-oriented mindset dan foresight. Future-oriented mindset dapat dipahami sebagai pola pikir yang melihat dampak jangka panjang dari setiap keputusan yang diambil hari ini (Jiang et al, 2019). Selain itu, pemimpin juga perlu menguasai foresight, yakni kemampuan membaca kondisi saat ini, membaca tren atau perubahan, dan menyusun strategi adaptif (O’Brien & Robertson, 2009). Foresight membantu future-oriented mindset menjadi lebih kontekstual dan strategis, dan memastikan bayangan masa depan yang dibentuk melalui visionary thinking tetap relevan dan masuk akal. Ketiganya saling melengkapi sebagai fondasi penting dalam menyusun arah masa depan yang ideal, relevan, dan dapat diwujudkan.
Integritas dan Akuntabilitas (integrity and accountability)
Integritas dalam hal ini tidak hanya dipahami sebagai kejujuran semata. Integritas seorang pemimpin juga mencakup konsistensi antara ucapan dan tindakan, keteguhan memegang prinsip, dan menjalankan tanggung jawab secara etis (Erkutlu & Chafla, 2020).
Adaptif dan Resilien (Adaptive and resilience)
Kemampuan untuk bersikap fleksibel, responsif, adaptif, dan menunjukkan inisiatif di tengah ketidakpastian dan perubahan. Pemimpin harus mampu dapat membaca kondisi baru dengan cepat dan menyesuaikan fokus, cara pandang, serta tindakannya agar selaras dengan dinamika lingkungan yang terus berubah (O’Brien & Robertson, 2009).
Pengambilan keputusan dan kepercayaan diri (decisiveness and confidence)
Pemimpin masa depan harus bisa mengambil keputusan secara cepat namun bijak sehingga perlu memiliki kemampuan menganalisis dan menimbang risiko. Selain itu, mereka juga harus percaya diri dan yakin terhadap tindakan dan pilihan yang diambil.
Kemampuan komunikasi (communication and influence)
Kemampuan komunikasi dalam kepemimpinan mencakup keterampilan menyampaikan pesan secara jelas, mendengarkan secara aktif, dan membangun ruang dialog yang terbuka. Pemimpin juga perlu mampu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan konteks, audiens, dan saluran komunikasi yang digunakan. Di tengah kompleksitas dan perubahan cepat, komunikasi menjadi penting untuk menjelaskan arah, menjaga keterhubungan tim, dan membangun kepercayaan yang mendukung pengambilan keputusan dan kolaborasi.
Kreatif dan inovatif (creative and innovative)
Pemimpin yang kreatif dan inovatif mampu melihat situasi dari berbagai sudut pandang dan dan menghasilkan pendekatan, ide, dan solusi yang unik. Pemimpin yang inovatif juga perlu untuk mendorong eksperimen dan ide baru serta menciptakan lingkungan yang aman untuk berkembangnya ide kreatif (O’Brien & Robertson, 2009; Sott & Bender, 2025) .
Kolaborasi dan kerja sama (collaboration and team working)
Pemimpin perlu membangun budaya kerja yang inklusif dengan mendorong kontribusi lintas fungsi dan disiplin, serta memastikan adanya kepercayaan dan ruang untuk belajar bersama. Lingkungan seperti ini menciptakan psychologically safe environment, di mana setiap anggota tim merasa aman untuk berpendapat, mencoba hal baru, maupun belajar dari kesalahan. Dengan fondasi tersebut, kolaborasi dapat berkembang lebih kuat sehingga pemimpin dan tim mampu merespons perubahan dengan cepat, memecahkan masalah secara kreatif, dan menghasilkan solusi yang berkelanjutan.
Empati dan kecerdasan emosional (empathy and emotional intelligence)
Pemimpin yang memiliki empati dapat memahami perspektif orang lain, dan menyesuaikan cara berinteraksi sehingga tercipta hubungan lingkungan yang inklusif dan suportif. Tanpa empati, organisasi berisiko mengalami lingkungan kerja yang buruk, rendahnya semangat kolektif, dan kurangnya partisipasi. Pemimpin yang tidak menunjukkan empati cenderung sulit membangun koneksi, kehilangan akses terhadap informasi penting, dan menciptakan jarak dengan tim, yang pada akhirnya menghambat efektivitas organisasi secara keseluruhan (Neale, 2025).
Tentang Penulis
Dr.nat.techn. Francis M. Constance Sigit Setyabudi, S.T.P., M.P. adalah dosen dan peneliti di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada dengan bidang keahlian teknologi pertanian, keamanan pangan, mikotoksin, serta teknologi produk pangan dan hasil pertanian. Ia aktif dalam kegiatan pendidikan, penelitian, pembimbingan, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan inovasi dan kekayaan intelektual. Rekam jejak penelitiannya tercermin dalam berbagai publikasi ilmiah nasional dan internasional yang membahas autentikasi pangan, fermentasi, karakteristik fisikokimia bahan pangan, serta mitigasi kontaminasi mikotoksin pada produk pertanian seperti kakao, jagung, madu, dan pisang. Selain publikasi jurnal dan prosiding, ia juga terlibat dalam penulisan buku ilmiah dan berbagai proyek riset kolaboratif, yang menunjukkan komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pangan yang aplikatif dan berkelanjutan.
IKUTI KELASNYA di UGM Online
Basic Future Leadership menghadirkan pendekatan komprehensif untuk mengembangkan kepemimpinan adaptif dan visioner melalui pemahaman konsep, praktik kolaboratif, pemanfaatan transformasi digital, serta strategi perubahan dan keberlanjutan agar pemimpin mampu membangun organisasi yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing di tengah tantangan global.
Referensi
Erkutlu, H & Chafra, J. (2020). Leader’s integrity and interpersonal deviance: The mediating role of moral efficacy and the moderating role of moral identity. International Journal of Emerging Markets, 15(3), 611 – 627.
Jiang, M., Wang, H., & Li, M. (2019). Linking Empowering Leadership and Organizational Citizenship Behavior Toward Environment: The Role of Psychological Ownership and Future Time Perspective. Frontier in Psychology, 10 (2612)
Liden, R. C., Wang, X., & Wang, Y. (2025). The evolution of leadership: Past insights, present trends, and future directions. Journal of Business Research, 186, doi.org/10.1016/j.jbusres.2024.115036.
Neale, P. (2025). Empathy is Non-Negotiable Leadership Skill: Here’s How to Practice it. Diakses 5 Juli 2025 https://hbr.org/2025/04/empathy-is-a-non-negotiable-leadership-skill-heres-how-to-practice-it
O’Brien, E & Robertson, P. (2009). Future leadership competencies: from foresight to current practice. Journal of European Industrial Training. 33(4), 371 – 380.
Sott, M. K & Bender, M. S. (2025). The Role of Adaptive Leadership in Times of Crisis: A Systematic Review and Conceptual Framework. Merits, 5(1), 2

